Senin 07 Dec 2020 23:00 WIB

Afghanistan Kembali Gulirkan Rencana Damai dengan Taliban

Perdamaian Afghanistan dan Tliban akan menguntungkan rakyat

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Nashih Nashrullah
Perdamaian Afghanistan dan Tliban akan menguntungkan rakyat Bendera Afghanistan
Foto: blogspot.com
Perdamaian Afghanistan dan Tliban akan menguntungkan rakyat Bendera Afghanistan

REPUBLIKA.CO.ID, MANAMA – Pemerintah Afghanistan kembali berencana untuk membuka komunikasi dan berdamai dengan kelompok Taliban.  

Dilansir di channelnewsasia.com Penasihat keamanan nasional Afghanistan mengatakan proses perdamaian yang berhasil dengan Taliban akan memungkinkan pemerintah untuk memfokuskan melawan kelompok ISIS.  

Baca Juga

Negara ini bergulat dengan gelombang kekerasan yang memburuk meskipun pembicaraan damai penting dengan Taliban yang dimulai pada September di Qatar. 

Namun di satu sisi ISIS semakin aktif melakukan serangkaian serangan di antaranya di Universitas Kabul, November lalu. Mereka meledakkan granat dan memborbardir kampus dengan tembakan otomatis ke seluruh kampus.  

Hamdullah Mohib, penasihat keamanan nasional Afghanistan, mengatakan bahwa meskipun ISIS telah pergi dari wilayah yang dikuasainya dan sumber pendanaannya terganggu, kelompok itu mempertahankan jaringan teror. 

"Tentu saja serangan-serangan itu sendiri cukup merusak, mereka menimbulkan banyak ketakutan bagi rakyat kami, dan kami bekerja sangat keras untuk mencegah mereka menyerang kota-kota kami," kata dia.

Salah satu alasan pemerintah fokus pada proses perdamaian dengan Taliban adalah bahwa jika ingin mencapai perdamaian dengan Taliban, pasukan keamanan akan dapat mengalihkan kemampuan mereka untuk menghadapi ISIS.   

 "Pembicaraan Doha telah mencapai kemajuan dalam beberapa hari terakhir, menetapkan kode etik yang akan memungkinkan proses untuk bergerak ke tahap berikutnya dalam menetapkan agenda negosiasi. Ini merupakan konflik yang panjang, empat dekade untuk mengakhiri konflik itu, tentu saja ada banyak keluhan yang perlu ditangani," kata Mohib. 

Semua orang lelah, tuntutan rakyat Afghanistan adalah mengakhiri konflik ini, tetapi ada banyak perbedaan. Tetapi dia optimis keduanya akan bisa mencapai perdamaian.  

Pihak yang bertikai telah terlibat langsung untuk pertama kalinya, menyusul kesepakatan penarikan pasukan yang ditandatangani pada Februari oleh pihak Taliban dan Washington.  

Amerika Serikat setuju untuk menarik semua pasukan asing dengan imbalan jaminan keamanan dan janji Taliban untuk mengadakan pembicaraan dengan Kabul. 

Namun, proses tersebut dibayangi oleh gelombang kekerasan dalam beberapa pekan terakhir, dengan Taliban melancarkan serangan hampir setiap hari terhadap pasukan pemerintah 

"Taliban ingin mendapatkan keuntungan maksimal di meja perundingan dan saya pikir mereka mungkin sedang menguji pasukan keamanan Afghanistan, mungkin juga tentang seberapa jauh mereka akan melangkah sebelum sekutu kami datang untuk mendukung kami," kata Mohib. 

Presiden Donald Trump telah memerintahkan kehadiran pasukan Amerika Serikat di Afghanistan untuk dipangkas dari 4.500 menjadi 2.500 pada pertengahan Januari, sebuah langkah yang menurut Mohib akan membuat militer Afghanistan di bawah tekanan. 

"Ini akan membebani kemampuan kami dan tentu saja akan mempengaruhi fasilitas pelatihan dan pemeliharaan yang sedang dibangun," katanya. 

Amerika Serikat seperti memaksa mereka untuk mempercepat rencana untuk membuat angkatan udara mandiri.  

"Kami masih mengandalkan kekuatan udara Amerika Serikat untuk banyak konflik dan kami membutuhkannya untuk mempertahankan keunggulan kami atas Taliban sampai kemampuan kami sendiri dibangun,"ujar dia. 

Sumber:  https://www.channelnewsasia.com/news/asia/taliban-peace-will-help-in-fighting-islamic-state-afghan-13711320  

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement