Sunday, 16 Rajab 1442 / 28 February 2021

Sunday, 16 Rajab 1442 / 28 February 2021

Solskjaer yang Kerepotan Menjaga Konsistensi MU

Ahad 06 Dec 2020 00:01 WIB

Red: Israr Itah

Pelatih Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer

Pelatih Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer

Foto: EPA-EFE/Peter Powell/NMC/Pool
Solskjaer dianggap tidak memiliki visi jelas dan kerap salah membaca pertandingan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil kepala eksekutif Manchester United (MU) Ed Woodward menyatakan akan mendukung kebijakan transfer manajer Ole Gunnar Solksjaer dengan menyediakan dana untuk eksekusi kebijakan itu. Woodward mengisyaratkan Solksjaer bakal terus berada di Old Trafford karena manajemen Setan Merah menganggap pelatih itu sudah menciptakan isyarat-isyarat positif di lapangan dan tempat latihan.

Namun Ahad (6/12), dini hari WIB di Stadion Olimpiade London melawan West Ham United, dan terlebih pertandingan hidup mati di Red Bull Arena melawan RB Leipzig Rabu (9/12) dini hari WIB, bisa menjadi pertaruhan nasib Solskjaer.

Pelatih asal Norwegia ini beberapa kali dikritik para mantan pemain Liga Primer Inggris dan juga pengamat sepak bola di sana karena dianggap tidak memiliki visi yang jelas dan kerap salah membaca pertandingan. Bukti terakhir yang paralel dengan tudingan itu adalah saat tetap memasang Fred pada babak kedua pertandingan Liga Champions melawan Paris Saint Germain tengah pekan ini ketika pemain ini tinggal menunggu waktu untuk dikeluarkan wasit.

Baca Juga

Sebelum kartu merah Fred, peluang MU dalam mengimbangi dan bahkan mengalahkan PSG cukuplah besar. Mereka beberapa kali melancarkan tusukan berbahaya yang sebagian gagal akibat tumpulnya Anthony Martial yang tetap saja diturunkan Solksjaer. Padahal level ketumpulan dan ketidak-konsistenannya di depan gawang sudah sangat mengkhawatirkan.

Begitu Fred dikeluarkan, PSG praktis mengendalikan penuh permainan dan kesempatan menciptakan gol pun menjadi kian sulit.

Fred, Martial dan Solksjaer adalah tiga orang yang disebut-sebut paling bertanggung jawab atas kekalahan 1-3 melawan PSG yang mempersulit United lolos ke fase gugur Liga Champions. Namun kesalahan terbesar tetap ada di pundak Solskjaer. Dia sama tidak konsistennya dengan beberapa pemainnya sendiri. Kadang punya visi yang bagus, kadang tidak.

Sebagai perbandingan, dalam pertandingan melawan PSG itu, dia jelas pelatih yang lebih buruk dari Thomas Tuchel. Pelatih PSG ini jeli membaca permainan. Dia tahu Neymar perlu dilindungi dari sisi kiri sehingga memasukkan Mitchel Bakker untuk memproteksi striker Brasil itu.

Kurang jeli

Tuchel menyadari laga ini krusial sehingga tak mau menoleransi sedikit pun kekeliruan tak perlu yang bisa merusak rencananya. Untuk itu, dia mengganti Leandro Paredes dengan Ander Herrera. Tuchel berjaga Paredes yang sudah terkena kartu kuning pada menit ke-27, bakal menerima kartu kedua. Begitu pula dengan Marco Verratti yang dia ganti 19 menit setelah mendapatkan kartu kuning.

Kalkulasi seperti ini tidak terlihat dari Solskjaer padahal dia dan timnya tidak dalam kondisi setertekan PSG. Dia tahu Fred beruntung tak mendapatkan kartu merah pada menit ke-23 karena menyerudukkan kepalanya ke dagu Paredes. Solskjaer juga sadar Fred tidak lebih baik dari Donny van de Beek, Nemanja Matic atau bahkan Paul Pogba dan Juan Mata. Namun dia ngotot memainkan gelandang Brasil itu pada babak kedua ketika Van de Beek, Pogba atau Matic punya keterampilan dan kemampuan untuk menutup ketidakhadiran Fred.

Wasit Daniele Orsato sendiri agaknya diam-diam "menyesal" tidak memberikan kartu merah langsung kepada Fred pada babak pertama sehingga ketika Fred melakukan tekel yang sebenarnya bersih pada menit ke-70, wasit ini tak ampun mengeluarkan kartu merah. Momentum memastikan lolos ke fase grup Liga Champions pun hilang seketika.

Walaupun saat itu kedudukan 2-1 untuk PSG, MU punya peluang besar menyamakan kedudukan dan bisa meredam ofensif PSG. Tetapi kehilangan seorang pemain saat menghadapi tim raksasa seperti PSG sama artinya mengakhiri peluang itu.

Keputusan soal Fred ini sendiri tak mengherankan karena Solskjaer kerap lambat membaca pertandingan dan cenderung lebih berjudi dengan tak pernah memasang formasi starter yang sama. Selalu berubah dan hasilnya pun tidak konsisten.

Menang 3-1 melawan PSG pada 20 Oktober ketika Axel Tuanzebe berperan vital dalam menjinakkan Neymar dan Kylian Mbappe, Solskjaer melucuti bek itu dan malah memasukkan Daniel James yang tumpul di barisan depan ketika menghadapi Chelsea empat hari kemudian. MU pun cuma bisa seri 0-0 melawan The Blues.

Kemudian pada 28 Oktober, Setan Merah menggasak RB Leipzig 5-0. Empat hari kemudian, Solksjaer kembali mengubah starting-eleven Setan Merah. Matic dan Pogba tak masuk starter saat melawan Arsenal. Hasilnya, MU menyerah 0-1 kepada The Gunners.

Lalu, setelah melakukan pembalikan luar biasa 3-2 melawan Southampton pada 29 November, Solskjaer kembali mengubah line-up dengan memasukkan lagi si mandul Martial yang diperburuk oleh kartu merah Fred.

Butuh konsistensi

Solskjaer sebaliknya agak kurang berani mengambil risiko. Bila dibandingkan Frank Lampard atau Pep Guardiola yang sama-sama berangkat dari permain sebelum menjadi pelatih, Solskjaer tidak seberani kedua pelatih ini dalam mengambil keputusan.

Lampard dan Guardiola yang selalu menjadi pilihan utama dan bahkan menjadi kapten Chelsea dan Barcelona, terlihat berani menghadapi konflik dalam skuadnya ketimbang Solskjaer yang sepertinya berusaha menjaga harmoni dengan menganggap semua pemain memiliki kualitas sama sehingga siapa pun bisa diturunkan. Dia seolah beranggapan MU kini sama dengan MU ketika di bawah kepelatihan Alex Ferguson yang memang merata kekuatannya termasuk Solksjaer sendiri yang sering menjadi pemain pengganti.

Pandangan Solskjaer itu tidak terjadi pada Lampard. Pelatih Chelsea ini tak butuh lama untuk memainkan secara reguler rekrutan-rekrutan anyarnya seperti Timo Werner, Kai Harvets dan Hakim Ziyech. Bahkan Lampard tidak segan mengeluarkan Kepa Arrizabalaga dari pilihan utamanya di depan gawang dengan menyatakan kini masanya Edouard Mendy menjadi kiper nomor satu The Blues.

Solksjaer tidak melakukan hal seperti itu. Donny van de Beek, Alex Telles, dan Edinson Cavani harus menunggu lama untuk diberi kepercayaan dipasang reguler sebagai starter. Situasi yang sama berlaku pada Dean Henderson yang musim lalu menjadi faktor besar di balik sukses Sheffield United yang kini terpuruk setelah ditinggalkan Henderson.

Sering salah membaca pertandingan dan tak mau mengambil risiko terhadap sejumlah pemain bintangnya, membuat Solksjaer seperti masih saja tidak yakin kepada timnya padahal kompetisi sudah berjalan jauh.

Dia terus membongkar pasang pemain dan lambat mengambil keputusan ketika pertandingan bakal menciptakan hasil buruk bagi timnya, khususnya dalam pertandingan-pertandingan krusial.

Bisa saja hari ini MU mendapatkan hasil positif melawan West Ham United yang tengah bangkit di bawah asuhan David Moyes. Bukan hal mustahil pula United memetik hasil positif minimal seri melawan Leipzig pekan depan. Bangkit pada keadaan terjepit memang sering dilakukan oleh United.

Tetapi itu tetap tak akan otomatis menghilangkan kekhawatiran terhadap bakal terus naik turunnya statistik bertanding MU sepanjang Solskjaer konsisten untuk tidak konsisten dan tidak tajam menaksir serta membaca pertandingan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA