Wednesday, 19 Rajab 1442 / 03 March 2021

Wednesday, 19 Rajab 1442 / 03 March 2021

Langkah Bias Eropa Hadapi Ekstremisme, Lalu Apa Solusinya?

Sabtu 05 Dec 2020 09:29 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah

Eropa menghadapi gelombang ekstremisme yang akut Polisi Prancis berjaga di dekat Gereja Notre Dame di Nice, selatan Prancis, Kamis, 29 Oktober.

Foto:
Eropa menghadapi gelombang ekstremisme yang akut

Hindari stigmatisasi

Tidak ada yang lebih kondusif bagi radikalisasi selain perasaan bahwa adanya lingkungan politik yang tidak bersahabat. Namun narasi yang dipromosikan  Macron, Michel, dan Menteri Dalam Negeri Uni Eropa menciptakan hal itu.

Mereka lebih mmilih Islam mengarah pada apa yang Zygmunt Bauman sebut sebagai adiaphorization Muslim, memperlakukan mereka sebagai orang-orang aneh, yang tidak memahami nilai-nilai kita atau sekularisme, tidak dapat berintegrasi ke dalam masyarakat, dan rentan terhadap radikalisasi dan kekerasan.  

Cukup membaca penelitian Vincent Geisser untuk melihat betapa berbedanya kenyataan. Misalnya, di Prancis, mayoritas Muslim terintegrasi dengan baik secara budaya dan sosial, sementara 70 persen merasa bahwa mereka dapat dengan bebas mempraktikkan Islam.  

photo
Orang-orang berkumpul untuk pawai berjaga, dijuluki Marche Blanche (White March) untuk memberi penghormatan kepada guru Samuel Paty yang dibunuh di Conflans Saint-Honorine, dekat Paris, Prancis, 20 Oktober 2020. Guru sekolah Prancis Samuel Paty di 16 Oktober dipenggal di Paris, Prancis, oleh penyerang berusia 18 tahun bernama Abdoulakh Anzorov yang ditembak mati oleh polisi. Paty adalah seorang guru sejarah yang baru-baru ini menunjukkan karikatur Nabi Muhammad di kelas. - (EPA-EFE/JULIEN DE ROSA)
Solusi lokal  

Macron benar dalam banyak diagnosisnya tentang penyebab radikalisasi kekerasan, pengaruh keuangan eksternal, dan dukungan negara yang lemah di daerah miskin. Namun solusi utama terletak pada jenis inisiatif yang sudah berjalan di Eropa. 

Di Denmark, model anti-radikalisasi dan deradikalisasi Aarhus tampaknya bekerja dengan baik (misalnya, jumlah pejuang asing yang keluar telah menurun secara signifikan setiap tahun sejak program dimulai).   

Membangun di atas struktur lokal, ini melibatkan jaringan luas orang tua, pekerja sosial, guru, pekerja klub pemuda, petugas penjangkauan, dan petugas polisi yang dilatih untuk menanggapi saat bertemu dengan orang yang mungkin telah diradikalisasi. Proyek diselenggarakan bersama oleh Departemen Psikologi dan Ilmu Perilaku di Aarhus University.  

Tujuannya adalah untuk mengalihkan aktivisme yang berpotensi berbahaya dari radikalisasi dan menuju jalan lain dengan merangkul inklusi, partisipasi yang berarti dalam kehidupan budaya, sosial, dan masyarakat bersama. Tim Aarhus secara teratur berhubungan dengan berbagai komunitas, organisasi, dan masjid Muslim.  

Inisiatif deradikalisasi model ini mencakup program khusus untuk pejuang asing yang kembali. Yang paling menarik, mungkin, model Aarhus bertumpu pada anggapan ilmiah bahwa semua manusia terlepas dari jenis kelamin, agama, latar belakang budaya, sejarah kehidupan, atau situasi sosial menghadapi tugas fundamental yang sama persis dalam hidup. Perasaan inklusi dan kesetaraan memungkinkan mereka untuk melaksanakan tugas-tugas ini ketika kehidupan mereka terganggu.  

Sedikit yang bisa dilakukan para pemimpin Eropa adalah tidak menambah perasaan pengucilan banyak Muslim, karena hal ini tidak membahayakan kohesi sosial. Yang paling bisa mereka lakukan adalah menerapkan solusi cerdas seperti Aarhus secara lokal. Solusi semacam itu membutuhkan waktu, upaya, dan penelitian tetapi itu sangat berharga.

 

Sumber:  https://ecfr.eu/article/how-europe-should-fight-violent-islamist-extremism/ 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA