Thursday, 24 Ramadhan 1442 / 06 May 2021

Thursday, 24 Ramadhan 1442 / 06 May 2021

Syahrul Lepas Ekspor Perdana Larva Kering Riau ke Inggris

Sabtu 05 Dec 2020 06:30 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Andi Nur Aminah

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo

Foto: Kementan
Larva kering yang diekspor tersebut sebanyak 4 ton dengan tujuan negara Inggris.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo melepas komoditas ekspor baru asal Provinsi Riau berupa larva kering atau magot black fly soldier (BSF). Larva kering yang diekspor tersebut sebanyak 4 ton dengan tujuan negara Inggris.

Maggot merupakan salah satu jenis lalat yang dapat dibudiayakan untuk sumber pakan alternatif. Pakan ini untuk sejumlah hewan ternak seperti unggas, ikan, iguana, burung dan lainnya.

“Apapun yang kita hasilkan dari bumi Indonesia yang kaya ini sangat dibutuhkan negara lain. Yang  dibutuhkan adalah kita melompat dengan cara-cara yang baru dan dengan skala produksi yang lebih besar,” kata Syahrul, Kamis (4/12).

Baca Juga

Menurutnya, sejalan dengan arahan presiden untuk menangkap peluang besar pasar sektor pertanian baik di Asia maupun di dunia, pihaknya melakukan langkah operasional untuk mendorong pelaku usaha dengan membuka akses pasar. Salah satunya, Kementan aktif melakukan kerja sama harmonisasi aturan protokol ekspor dan ketentuan sanitari dan fitosanitari produk pertanian dengan negara tujuan ekspor.

"Saat ini aturan kebijakan tarif pada perdagangan internasional sudah tidak lagi populer. Sehingga hanya produk pertanian yang sehat dan aman dari hama penyakit hewan dan tumbuhan jadi syarat diterimanya produk pertanian di pasar global," ujarnya.  

Karena itu, menurut Syahrul, penguatan sistem karantina menjadi mutlak. Sistem karantina dengan otoritas yang dimiliki dapat menjamin kesehatan dan keamanan produk pertanian hingga dapat berdaya saing tinggi.  

Penguatan baik berupa sarana dan prasarana untuk meningkatkan pengawasan dan perlindungan. Sekaligus berupa inovasi dan terobosan percepatan layanan dengan memanfaatkan teknologi informasi. “Pertanian tidak boleh hancur dan ini merupakan tanggung jawab kita bersama semua," katanya.

Budi Tanaka, salah satu eksportir magot menyampaikan bahwa usaha yang dibangun sebelumnya di Bogor, Jawa barat ini kini mengembangkan usahanya di Riau. Alasannya karena bahan baku berupa produk samping sawit tersedia berlimpah di sana. Sehingga ia dapat mengembangbiakkan magot dengan skala yang lebih besar.

“Kebijakan dan aturan pemerintah daerah juga mendukung. Untuk akses pasar juga dibantu pihak karantina pertanian, khususnya jika ada hambatan protokol ekspornya,“ kata Budi.

Selain melepas ekspor ragam komoditas baru, Menteri Pertanian juga melepas 11 komoditas pertanian asal Riau lainnya. Masing-masing adalah kelapa dan turunannya, keladi, produk olahan nanas dan lainnya dengan total volume 117.288 ton senilai Rp 716 miliar. Adapun negara tujuan ekspor berjumlah 18 yakni selain Inggris adalah Amerika Serikat, Turki, Cina, Korea Selatan, Estonia, Malaysia dan lainnya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA