Jumat 04 Dec 2020 22:00 WIB

BPPTKG: Aktivitas Seismik Gunung Merapi Masih Tinggi

Gempa Vulkanik Dangkal (VTB) selama sepekan tercatat sebanyak 236 kali

Gunung Merapi saat pagi terlihat dari Tligolele, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (23/11).
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Gunung Merapi saat pagi terlihat dari Tligolele, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (23/11).

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebutkan bahwa aktivitas seismik Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta selama periode pengamatan 27 November-3 Desember 2020 masih tinggi.

"Secara mingguan data ini sedikit menurun namun ini masih dalam nilai yang fluktuatif tinggi," kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida saat menyampaikan penjelasan aktivitas Gunung Merapi secara virtual, Jumat (4/12).

Baca Juga

Menurut Hanik, penurunan aktivitas seismik itu antara lain ditunjukkan dengan perbandingan intensitas kegempaan di Gunung Merapi yang relatif lebih rendah dari pengamatan pada pekan sebelumnya.

Ia menyebutkan Gempa Vulkanik Dangkal (VTB) selama sepekan tercatat sebanyak 236 kali atau menurun dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat 277 kali, gempa fase banyak (MP) sebanyak 2.128 kali turun dari sebelumnya 2.464 kali, gempa guguran (RF) 289 kali turun dari sebelumnya 340 kali, gempa hembusan 330 kali menurun dari sebelumnya 541 kali.

Selain kegempaan, data pengamatan deformasi juga menunjukkan tren menurun. Dari total pemendekan jarak tunjam pada pekan sebelumnya sebanyak 78 cm menurun menjadi 74 cm.

"Dalam satu minggu memang ada kecenderungan menurun sedikit tetapi masih tinggi untuk ukuran aktivitas Merapi," kata dia.

Mengingat aktivitas seismik masih pada level yang tinggi, menurut Hanik, potensi Gunung Merapi mengalami erupsi masih ada. "Selama masih setinggi ini potensi untuk erupsi masih ada," kata dia.

Sementara itu, Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Agus Budi Santoso menambahkan bahwa aktivitas seismik perlu dilihat secara menyeluruh. Jika dalam sepekan cenderung mengalami penurunan, menurutnya, hal itu bisa menjadi indikasi bahwa tidak ada peningkatan aktivitas yang tajam.

"Sehingga probabilitas aktivitas menjadi seperti erupsi 2010 menjadi kecil. Sedangkan pola yang tinggi namun mendatar seperti pola erupsi efusif 2006 dan melihat nilai volumenya yang tinggi (erupsi) bisa lebih besar dari 2006," kata Agus.

BPPTKG mempertahankan status Gunung Merapi pada Level III atau Siaga. Potensi bahaya akibat erupsi Merapi diperkirakan maksimal dalam radius lima kilometer dari puncak.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement