Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

Miris! Ini Alasan Tingkat Bunuh Diri Kaum Muda Irak Naik

Sabtu 05 Dec 2020 05:00 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Ani Nursalikah

Miris! Ini Alasan Tingkat Bunuh Diri Kaum Muda Irak Naik. Warga Irak membawa peti mati korban yang tewas dalam serangan rudal roket yang menghantam sebuah rumah dekat bandara internasional Baghdad, Irak pada 29 September 2020. Setidaknya 5 warga sipil Irak, di antaranya anak-anak, tewas dan dua lainnya luka-luka, setelah roket menghantam sebuah rumah dekat bandara Baghdad, menurut tentara Irak.

Miris! Ini Alasan Tingkat Bunuh Diri Kaum Muda Irak Naik. Warga Irak membawa peti mati korban yang tewas dalam serangan rudal roket yang menghantam sebuah rumah dekat bandara internasional Baghdad, Irak pada 29 September 2020. Setidaknya 5 warga sipil Irak, di antaranya anak-anak, tewas dan dua lainnya luka-luka, setelah roket menghantam sebuah rumah dekat bandara Baghdad, menurut tentara Irak.

Foto: EPA-EFE/MURTAJA LATEEF
Jumlah bunuh diri meningkat dua kali lipat sejak 2003.

REPUBLIKA.CO.ID, BAGHDAD -- Irak tengah menghadapi tingkat bunuh diri yang meningkat di kalangan pemudanya. Negara yang kaya minyak di Timur Tengah itu memang masih terus dilanda krisis dan perang berkepanjangan.

Kaum muda di sana kesulitan mendapatkan pekerjaan. Karenanya tidak heran, pengangguran menjadi salah satu pendorong utama dari gerakan protes yang meletus pada Oktober tahun lalu. Namun, aksi protes itu tidak lantas ditanggapi pemerintah dan malah ditanggapi dengan kekerasan.

Baca Juga

Kini, bunuh diri yang meningkat menjadi tambahan masalah di negara itu. Banyak analis yang mengaitkannya dengan keputusasaan ekonomi yang dialami banyak orang sejak 2003.

Selama delapan bulan pertama 2020, Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) mengumumkan 298 kasus bunuh diri di seluruh Irak, termasuk 68 di Baghdad, 39 di Basra dan 30 di Dhi Qar. Beberapa statistik pemerintah menunjukkan jumlah bunuh diri meningkat dua kali lipat sejak 2003.

Ada beberapa faktor penyebab angka bunuh diri, termasuk masalah pribadi dan masalah sosial. Kesulitan ekonomi, bagaimanapun, telah menjadi sumber keputusasaan publik yang konstan, dengan pengangguran yang terus meningkat selama dekade terakhir. Selain itu, Irak menghadapi tantangan yang signifikan sejak kekalahan ISIS pada 2017.

"Masalah keluarga dan alasan ekonomi, selain tekanan psikologis baru-baru ini akibat pandemi virus corona, semuanya telah menyebabkan peningkatan angka bunuh diri dan upaya bunuh diri di Irak," kata anggota Komisi Tinggi untuk Hak Asasi Manusia, Ali Al-Bayati, kepada The New Arab, dilansir Kamis (3/12).

Selain itu, ia mengatakan kurangnya perhatian pada kesehatan mental dan kurangnya perencanaan pemerintah menangani masalah ini telah menyebabkan peningkatan kasus masalah psikologis yang dapat menyebabkan bunuh diri. Video percobaan bunuh diri dari sejumlah jembatan di negara itu telah banyak dibagikan di seluruh platform media sosial.

Masalah ini menjadi begitu parah sehingga pemerintah mengusulkan pembangunan tembok pengaman di sepanjang jembatan di atas Sungai Tigris di Baghdad. Akan tetapi, banyak orang Irak yang mengecam tindakan itu hanya sebagai plester luka daripada solusi radikal.

Pandemi Covid-19 juga dikatakan berkontribusi pada peningkatan yang mengkhawatirkan dalam kekerasan dalam rumah tangga di seluruh Irak. Beberapa kejahatan tingkat tinggi terjadi, termasuk seorang wanita yang melemparkan anak-anaknya dari jembatan yang membuat gempar negara itu.

Satu survei oleh Kesehatan Keluarga Irak (Iraqi Family Health) menemukan, satu dari lima perempuan Irak mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Seorang dokter di Basra yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, kota-kota di selatan, termasuk Basra, mencatat angka percobaan bunuh diri atau bunuh diri tertinggi. Usia mereka berkisar antara 18 hingga 30 tahun.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA