Friday, 21 Rajab 1442 / 05 March 2021

Friday, 21 Rajab 1442 / 05 March 2021

Efek Samping Vaksin Jauh Lebih Ringan daripada Kena Covid-19

Kamis 03 Dec 2020 10:18 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Reiny Dwinanda

Vaksin Covid-19 (ilustrasi). Kebanyakan orang yang mendapatkan vaksin Covid-19 akan mengalami efek samping, terutama setelah dosis kedua.

Vaksin Covid-19 (ilustrasi). Kebanyakan orang yang mendapatkan vaksin Covid-19 akan mengalami efek samping, terutama setelah dosis kedua.

Foto: AP Photo/Ted S. Warren
Jelang penggunaan vaksin Covid-19 secara massal, pertanyaan soal efek samping muncul.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Inggris sudah memberi lampu hijau untuk penggunaan vaksin Covid-19 yang dikembangkan Pfizer-BioNTech. Sementara itu, Pfizer dan Moderna, telah mengajukan penggunaan darurat dua dosis suntikan kandidat vaksinnya di Amerika Serikat.

Mendekati penggunaan vaksin secara massal, berbagai pertanyaan telah muncul. Apakah vaksin ini tanpa efek samping?

Kebanyakan orang yang mendapatkan vaksin Covid-19 akan mengalami efek samping, terutama setelah dosis kedua, dilansir di USA Today, Kamis (3/12). Tiga kandidat vaksin melaporkan efek samping ringan atau sedang, kebanyakan nyeri di tempat suntikan, kelelahan, dan nyeri otot dan persendian selama satu atau dua hari.

"Lengan yang sakit dan merasa sesak selama satu atau dua hari masih jauh lebih mendingan daripada Covid-19," kata Dr William Schaffner, profesor kebijakan kesehatan dan pengobatan pencegahan di Vanderbilt University School of Medicine, AS.

Menurut para ahli medis, jika seseorang akan mengalami reaksi buruk terhadap suatu vaksin, kemungkinan besar terjadi dalam enam pekan pertama setelah vaksinasi. Namun, para ahli masih belum mengetahui efek jangka panjang dari vaksin.

Hal itu tidak akan terungkap sampai uji coba selesai. Para peneliti masih akan memantau penerima vaksin Covid-19 selama bertahun-tahun setelahnya.

Akankah vaksin aman jika bagi ibu hamil?
Ibu hamil berada pada peningkatan risiko penyakit parah akibat Covid-19, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS. Namun, tidak ada data bagaimana ibu hamil merespons vaksin Pfizer atau Moderna karena mereka tidak diikutsertakan dalam uji coba.

Para ahli masih memperdebatkan kapan vaksin secara umum harus diuji pada mereka yang sedang hamil. Secara historis, vaksin besar belum pernah diuji selama kehamilan karena kekhawatiran bahwa ibu hamil dan janin akan berisiko mengalami komplikasi.

Komite Penasihat Praktik Imunisasi, sebuah kelompok independen yang dibentuk oleh CDC untuk menawarkan nasihat tentang siapa yang harus mendapatkan vaksin tertentu dan kapan, membahas masalah apakah petugas kesehatan yang hamil atau menyusui harus menerima vaksin dalam pertemuan hari Selasa (1/12). Belum ada panduan lebih lanjut mengenai hal ini.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA