Sunday, 14 Rajab 1444 / 05 February 2023

Selandia Baru Turut Kecam Disinformasi dari Pejabat China

Kamis 03 Dec 2020 09:25 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

 Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern

Foto: AP/Nick Perry
China menyatakan tidak perlu minta maaf atas unggahan foto pejabat China di Twitter

REPUBLIKA.CO.ID, WELLINGTON -- Selandia Baru bergabung dengan Australia dalam mengecam unggahan foto pejabat China di Twitter. Foto tersebut menunjukkan seorang tentara Australia mengarahkan pisau berdarah ke leher seorang anak.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan negaranya menyuarakan keprihatinan mereka secara langsung ke pihak berwenang China. Beijing belum mundur dari cicitan tersebut dan mengatakan tidak perlu meminta maaf.

Baca Juga

"Gambar ini tidak faktual, ini tidak benar dan jadi sesuai dengan prinsip posisi kami dalam bagaimana gambar itu digunakan kami akan mengungkapkan keprihatinan dan kami akan menyampaikan secara langsung," kata Ardern pada wartawan, Rabu (2/12) kemarin.

Kritikan Ardern sedikit lebih lembut dibandingkan Australia. Ia berada di posisi yang canggung dalam seberapa jauh ia harus terlibat dalam konflik antara sekutu terdekat Selandia Baru yakni Australia dan mitra dagang terbesar mereka, China.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyebut gambar tersebut 'menjijikkan'. Ia menuntut pemerintah China untuk minta maaf. Unggahan tersebut mengincar skandal kejahatan perang tentara Australia di Afghanistan.

Insiden ini semakin memperburuk hubungan Australia dan China. Gambar yang menunjukkan tentara Australia menodongkan pisau ke leher anak diunggah juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Zhou Lijian.

"Pembunuhan yang dilakukan tentara Australia terhadap warga sipil dan tahanan Afghanistan mengejutkan, kami mengecam keras tindakan semacam ini dan meminta mereka bertanggung jawab," tulis Zhou dalam unggahan tersebut.

Ia menyinggung laporan mengerikan militer Australia pada awal bulan ini yang menemukan pasukan elite Negeri Kanguru melakukan pembunuhan ekstrayudisial terhadap 39 tahanan, petani, dan warga sipil Afghanistan. Laporan itu merekomendasikan para tentara yang terlibat dibawa ke polisi federal untuk diselidiki.  

Ditanya mengenai isu unggah tersebut, juru bicara Kementerian China Hua Chunying menyalahkan Australia. Ia mengatakan Australia harus intropeksi diri.

"Apa yang seharusnya Australia lakukan adalah introspeksi diri, membawa pelaku ke pengadilan, menyampaikan permintaan maaf resmi ke rakyat Afghanistan, dan berjanji dengan sungguh-sungguh pada masyarakat internasional mereka tidak akan melakukan kejahatan keji itu lagi," kata Hua. 

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA