Wednesday, 9 Ramadhan 1442 / 21 April 2021

Wednesday, 9 Ramadhan 1442 / 21 April 2021

Tips Menanggapi Islamofobia dengan Tepat (2)

Kamis 03 Dec 2020 05:23 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Ani Nursalikah

Tips Menanggapi Islamofobia dengan Tepat (2). Ilustrasi Islamofobia

Tips Menanggapi Islamofobia dengan Tepat (2). Ilustrasi Islamofobia

Foto: Foto : MgRol_94
Islamofobia mengakibatkan trauma psikologis dan masalah kesehatan mental.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Artikel yang ditulis Hannah Morris dan dipublikasikan laman About Islam pada Maret 2019 akan secara khusus membahas penanganan langsung Islamofobia dan strategi yang dapat kita gunakan untuk mengatasinya.

Tanggapi dengan cara terbaik

Ini bisa sangat sulit dilakukan terutama ketika seseorang menghina identitas yang sangat penting bagi kita. Tetapi begitu kita mencobanya sekali, kita akan merasa baik dan percaya diri bahwa kita tidak menurunkan diri kita ke level penindas.

Baca Juga

"Perbuatan baik dan jahat tidak sama. Tuntut kejahatan dengan kebaikan dan dia yang adalah musuh kita akan menjadi teman tersayang kita. Tapi tidak ada yang akan mencapai ini kecuali mereka yang bertahan dengan ketabahan dan sangat disukai oleh Tuhan." (QS Fussilat: 34-35)

Nabi Muhammad SAW menjadi sasaran kejahatan rasial sepanjang hidupnya tetapi selalu menanggapinya dengan sabar. Sebagai panutan utama kita, kita harus berusaha meniru perilakunya dalam menghadapi penindasan dan kebencian.

Tantang stereotip negatif

Tanggapan positif terhadap komentar negatif ini akan menantang keyakinan para pelaku kekerasan tentang apa itu Islam. Lagipula, Islamofobia secara umum tampaknya merupakan akibat dari perilaku agresif yang tidak menguntungkan dari kelompok minoritas Muslim.

Selain itu, jika kita mengambil nama Islamophobia secara harfiah sebagai ketakutan akan Islam maka ini akan menyiratkan bahwa perilaku menindas mereka adalah hasil dari interpretasi negatif terhadap Islam. Jadi dengan menanggapi secara positif maka pikiran mereka akan sangat tertantang.

Orang melakukan perilaku menindas karena merasa terancam. Tempatkan diri kita pada posisi mereka. Jika kita mengesampingkan pengetahuan kita tentang Islam dan mendasarkan pendapat kita tentang Islam hanya berdasarkan apa yang kita lihat di media, apa pendapat kita tentang Islam? Mungkin tidak ada yang bagus.

Jadi, di negara-negara di mana Muslim adalah minoritas, masyarakat lebih mungkin dipengaruhi dan bergantung pada paparan media untuk mendefinisikan apa itu Islam, karena kurangnya eksposur kehidupan nyata. Jika kita memikirkannya dari sudut ini, segala sesuatunya menjadi jauh lebih jelas. Bagi kita perlu menantang citra negatif yang diberikan media kepada Islam dengan menjadi contoh terbaik Muslim dari Islam yang sangat baik serta berkualitas.

Berdoa untuk para pelaku Islamofobia

Seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW untuk orang Quraisy. Ini juga akan melembutkan hatimu.

Jaga dirimu

Islamofobia dan kejahatan rasial menantang harga diri, bahkan bagi mereka yang bukan korban langsung. Penting untuk tidak membiarkan diri kita menginternalisasi pendapat orang lain ini dan mengabaikan kesehatan kita. Jadi pastikan untuk menjaga semua aspek kesehatan kita, seperti kesehatan fisik, spiritual, sosial dan psikologis.

Cari konseling jika perlu

Jangan takut untuk mencari konseling. Itu semua adalah bagian dari perawatan diri. Menjadi korban kejahatan rasial atau Islamofobia bisa sangat mengganggu karena lebih dari sekadar penghinaan kecil, tetapi menyerang identitas dari dalam dan memiliki konsekuensi yang menghancurkan sebagai akibatnya. Apakah itu dalam hal dampak psikologis seperti kecemasan atau depresi atau upaya untuk memisahkan diri dari Islam dengan menghilangkan simbol-simbol yang terbuka untuk menjadi seorang Muslim seperti hijab.

Bersambung...

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA