Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

Arab Saudi Dinilai Sukses Kendalikan Penyebaran Covid-19

Rabu 02 Dec 2020 13:27 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Esthi Maharani

 Sebuah foto selebaran yang disediakan oleh Kementerian Haji dan Umrah Saudi menunjukkan umat Islam mengenakan masker wajah dan menjaga jarak aman saat mereka melakukan umrah di sekitar Ka

Sebuah foto selebaran yang disediakan oleh Kementerian Haji dan Umrah Saudi menunjukkan umat Islam mengenakan masker wajah dan menjaga jarak aman saat mereka melakukan umrah di sekitar Ka

Foto: EPA-EFE/SAUDI MINISTRY OF HAJJ
Saudi dinilai berhasil mengendalikan penyebaran Covid-19 dengan aturan yang ketat

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH -- Upaya Arab Saudi untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 mendapatkan perhatian global. Hal ini setelah para peneliti di seluruh Kerajaan menyoroti keberhasilan serangkaian tindakan yang diadopsi dalam beberapa bulan terakhir oleh Saudi.

Sejak pandemi Covid-19 pada awal Maret 2020, Saudi telah meluncurkan berbagai protokol kesehatan yang telah mengurangi jumlah infeksi dari sekitar 5.000 pada pertengahan Juni menjadi hanya ratusan saat ini.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memuji pendekatan Kerajaan. Sementara itu, banyak kepala negara menyebut contoh Saudi itu sebagai "kisah sukses" selama KTT para pemimpin G20 pada 22 November 2020 lalu.

Sebuah studi yang diterbitkan di Saudi Pharmaceutical Journal berjudul "Pentingnya tindakan pencegahan dini dalam menghindari penyebaran Covid-19: Arab Saudi sebagai contoh", menyoroti keefektifan upaya Kerajaan tersebut. Salah satu penulis penelitian tersebut, Khalidah Alenzi, mengatakan bahwa tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk mengukur kesiapan negara-negara di seluruh dunia untuk menghadapi pandemi.

Penelitian, yang ditulis bersama oleh Dr. Thamir Alshammari dan Dr. Ali Altebainawi, baru-baru ini dipuji oleh Gubernur California, Gavin Newsom. Newsom mengatakan, bahwa dia berencana untuk menggunakan studi tersebut bersama dengan studi dari Prancis dan Jerman, sebagai model untuk pembatasan yang lebih tangguh di negara bagian AS tersebut.

Alenzi, yang juga merupakan pengawas pada Pusat Informasi dan Kewaspadaan Obat Regional di Kementerian Kesehatan di Tabuk, mengatakan ketika gubernur California mempresentasikan Arab Saudi sebagai salah satu model terbaik untuk tindakan pencegahan terhadap virus corona, berdasarkan penelitian dari tim Saudi, ia hanya menjelaskan sebagian kecil dari kemampuan Saudi yang sangat baik dalam menangani pandemi.

Menurutnya, tim peneliti telah menunjukkan bahwa tindakan pencegahan serta protokol kesehatan telah membatasi jumlah kematian. Meskipun kritik tetap muncul ketika tindakan tersebut diberlakukan pertama kali.  

"Kami terkejut menemukan bahwa kami memulai lebih awal dibandingkan dengan negara lain yang dilanda pandemi, terutama yang berbatasan dengan China seperti Korea Selatan, dan negara-negara di Asia Timur," kata Alenzi, dilansir di Arab News, Rabu (2/12).

Berdasarkan logika itu, mereka mendapat ide untuk melakukan penelitian independen di Arab Saudi guna mendeteksi kasus-kasus reaksi dini dan menghadirkannya sebagai model untuk diikuti.

"Pada awalnya kami berpikir untuk menyajikan penelitian komparatif dengan negara lain seperti Italia dan Prancis, tetapi kami menemukan bahwa analisis data akan ditandai dengan perbedaan yang sangat besar," ujarnya.

Alenzi mengatakan, langkah awal Kerajaan sempat menghadapi kritik dari beberapa pakar asing karena dinilai terlalu ketat. Namun, para pengkritik itu kemudian mundur setelah adanya lonjakan kasus dan penyebaran virus yang tidak terkendali di negara masing-masing.

"Jika bukan karena tindakan pencegahan ekstrim yang diusulkan oleh tim peneliti, kami tidak akan pernah bisa menghindari gelombang kedua dan ketiga dari pandemi," kata Alenzi.

Dia menambahkan, bahwa negara-negara seperti Spanyol, di mana terdapat lebih dari 1,6 juta kasus yang dikonfirmasi dan terus meningkat, telah menghadapi protes terhadap langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah mereka. Negara itu kini menderita gelombang kedua pandemi karena kegagalan mereka untuk mengikuti protokol yang ditetapkan.

Warga di Kerajaan Saudi, bekerja sama dengan pemerintah dan lembaganya, mampu mempertahankan kendali dan berhasil mengendalikan penyebaran pandemi. Total kasus terkonfirmasi di Arab Saudi berada di angka 357.000, dengan kurang dari 5.000 kasus aktif hingga Selasa (1/12).

"Pandemi ini telah membuktikan kader Kerajaan yang sangat cakap dan terampil dibandingkan dengan negara-negara Eropa. Saudi telah menjadi contoh dengan kemampuannya menyediakan obat-obatan pencegahan dan pengobatan untuk melawan pandemi," tambah Alenzi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA