Rabu 02 Dec 2020 11:58 WIB

Begini Situasi Dalam Rumah Mahfud Saat Digeruduk Massa

Ibunda Mahfud merasa ketakutan melihat ke luar rumah sudah banyak orang.

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Andi Nur Aminah
Kerumunan massa (ilustrasi)
Foto: Reuters/Enny Nuraheni
Kerumunan massa (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keluarga Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, mengungkapkan situasi di dalam rumah yang digeruduk massa. Ibunda Mahfud merasa ketakutan saat melihat ke luar rumah usai melaksanakan sholat Dzhuhur.

"Kejadian kemarin siang setelah sholat Dzuhur itu, ibu ini sedang istirahat. Kemudian ada ramai katanya di depan sampai gedor-gedor pintu, sampai naik-naik pagar. Kebetukan kakak saya kemudian melihat keluar dan dengan ibu yang merasa ketakutan," ujar adik bungsu Mahfud, Siti Marwiyah, dalam video yang Republika.co.id terima, Rabu (2/12).

Baca Juga

Siti mengungkapkan, di rumah yang berada di Kelurahan Bugih, Pamekasan, Jawa Timur, itu hanya dihuni oleh ibunya yang sudah berusia 90 tahun dan kakak perempuannya yang berusia 70 tahun. Mereka hanya ditemani oleh perawat sang ibu serta asisten rumah tangga saja.

"(Ibu) ini sudah 90 tahun. Kakak saya ini 70 tahun. Jadi memang penghuninya di rumah ini tinggalnya perempuan semua, dua perawat juga perempuan semua. Jadi kejadian kemarin memang mencekamlah untuk kami," kata Siti.

Siti pun memastikan keadaan ibundanya kini sudah aman dan sudah kembali berada di rumah. Video yang Republika terima itu direkam usai sholat Subuh, Rabu (2/12) oleh Siti. Dia sendiri tinggal di Surabaya dan memutuskan berangkat ke Pamekasan untuk memastikan keadaan ibundanya.

Mahfud sendiri sudah berkomentar lebih lanjut soal penggerudukan kediamannya di Pamekasan. Mahfud mengatakan, selama menjabat menteri dia selalu berusaha menghindari menindak orang yang menyerang dirinya pribadi, namun dalam kasus itu yang diganggu adalah ibunya.

"Tapi kali ini mereka mengganggu ibu saya, bukan mengganggu Menko Polhukam," tulis Mahfud lewat akun Twitter-nya, @mohmahfudmd, dikutip Rabu (2/12).

Mahfud menerangkan, dia selalu berusaha menghindari untuk menindak orang yang menyerang pribadinya. Dia khawatir, apabila penindakan atas serangan itu dilakukan, maka akan dilihat sebagai sosok yang egois dan sewenang-wenang karena memegang jabatan di pemerintahan.

"Saya selalu berusaha menghindar untuk menindak orang yang menyerang pribadi saya karena khawatir egois dan sewenang-wenang karena saya punya jabatan. Saya siap tegas untuk kasus lain yanh tak merugikan saya," kata dia, masih dalam satu cicitan yang sama.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement