Wednesday, 19 Rajab 1442 / 03 March 2021

Wednesday, 19 Rajab 1442 / 03 March 2021

Satgas Buat Pedoman Prokes dalam 77 Bahasa Daerah

Selasa 01 Dec 2020 17:52 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Gita Amanda

Ilustrasi Covid-19

Ilustrasi Covid-19

Foto: Pixabay
Ini dilakukan dengan harapan masyarakat di seluruh Indonesia bisa memahami prokes

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Satgas Penanganan Covid-19 Nasional dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan Pedoman Perubahan Perilaku Protokol Kesehatan dalam 77 bahasa daerah. Upaya ini dilakukan dengan harapan masyarakat di seluruh Indonesia bisa memahami protokol kesehatan (prokes) pada era pandemi Covid-19 dengan lebih mudah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan saat ini ditengarai pesan-pesan yang disampaikan oleh pemerintah masih perlu ditingkatkan. "Strategi mengubah pesan-pesan itu ke dalam bahasa yang paling dekat dengan masyarakat yaitu bahasa daerah masing-masing dirasa sangat cepat," kata Nadiem, saat membuka peluncuran pedoman secara daring, Selasa (1/12).

Bahasa daerah, kata Nadiem adalah bahasa ibu dan secara sosial memberikan pesan lebih emosional kepada penuturnya. Ia berharap, dengan diterjemahkan ke dalam bahasa ibu, para penutur bahasa dapat merasa lebih dekat dan lebih memahami pedoman tersebut.

Selain itu, Nadiem juga berharap buku pedoman tersebut bisa menggerakkan masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. "Saya menyambut baik dan mengucapkan terima kasih atas inisiatif yang diambil oleh Kepala Badan Bahasa bekerjasama dengan tim Satgas Penanganan Covid-19," kata dia menambahkan.

Hal senada diungkapkan Kepala Badan Bahasa Kemendikbud, E Aminudin Aziz. Ia mengatakan, masyarakat akan lebih mudah memahami makna-makna yang ada di dalam pedoman protokol kesehatan jika disampaikan menggunakan bahasa daerahnya.

Selama ini, kata Aminudin, kebanyakan informasi mengenai Covid-19 dan protokol kesehatan menggunakan bahasa serapan atau justru bahasa asing. Bahasa-bahasa tersebut seringkali hanya sekadar didengar namun tidak dipahami karena tidak dekat dengan masyarakat.

"Kalau disampaikan dalam bahasa-bahasa daerah, bahasa kita masing-masing, kita pasti akan lebih memahami apa yang dimaksudkan di dalam pesan tersebut," kata Aminudin.

Ke depannya, ia berharap kampanye protokol kesehatan menggunakan bahasa daerah bisa diperbanyak sehingga pesan yang disampaikan bisa sampai ke masyarakat. Akhirnya, penyebaran wabah Covid-19 bisa ditekan serendah mungkin dengan pemahaman yang baik oleh masyarakat terkait protokol kesehatan.

Sementara itu, Ketua Satgas Covid-19, Doni Monardo mengatakan langkah membuat pedoman protokol kesehatan dengan 77 bahasa daerah adalah langkah yang strategis saat ini. Sebab, bahasa daerah adalah salah satu cara untuk mempercepat penyebaran informasi kepada masyarakat luas.

"Mengingat sebagian besar istilah menggunakan bahasa asing, ada protokol kesehatan, new normal, adaptasi, ada banyak lagi istilah-istilah lain yang merupakan istilah medis," kata Doni.

Beragamnya istilah tersebut, lanjut dia, sangat sulit dipahami oleh seluruh masyarakat Indonesia. Padahal, penjelasan tentang Covid-19 ini harus secara sederhana dan mudah sehingga bisa diterima dengan baik oleh masyarakat. Sementara itu, di lapangan saat ini kampanye protokol kesehatan masih kebanyakan menggunakan bahasa yang sulit dipahami langsung.

Doni menambahkan, adanya pedoman dengan 77 bahasa ini juga menunjukkan betapa beragamnya budaya di Indonesia. Di satu sisi, budaya yang beragam tersebut juga secara tidak langsung mempengaruhi perilaku masyarakat dalam menjalani kehidupannya, termasuk dalam menanggapi pandemi.

Lebih lanjut, Doni menegaskan, Covid-19 hingga hari ini masih menjadi ancaman penyakit yang sangat berbahaya. Penyakit ini dapat menimbulkan kematian khususnya kepada lansia dan kelompok rentan atau yang memiliki komorbid. Bahaya ini harus disadari oleh masyarakat sehingga penyebarannya bisa terkendali.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA