Thursday, 10 Ramadhan 1442 / 22 April 2021

Thursday, 10 Ramadhan 1442 / 22 April 2021

Ada Hadits Nabi SAW Bolehkan Caci Maki, Benarkah?  

Selasa 01 Dec 2020 17:44 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Ada kalangan yang jadikan hadits Nabi SAW landasan berkata kotor  Rasulullah SAW (ilustrasi)

Ada kalangan yang jadikan hadits Nabi SAW landasan berkata kotor Rasulullah SAW (ilustrasi)

Foto: Republika/Kurnia Fakhrini
Ada kalangan yang jadikan hadits Nabi SAW landasan berkata kotor

Oleh : Ustadz Yendri Junaidi Lc MA, dosen di STIT Diniyyah Puteri Padang Panjang, alumni Al-Azhar Mesir

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Ternyata bukan hanya ungkapan Abu Bakar ash-Shiddiq, sebagian orang bahkan menjadikan hadits Rasulullah ﷺ sebagai dasar untuk membolehkan berkata kotor. Hadits yang dimaksud adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad, Bukhari dalam Adab Mufrad dan lain-lain

  من تعزى بعزى الجاهلية فأعضوه بهن أبيه ولا تكنوا “Siapa yang berintisab dengan nasab jahiliyah maka ‘gigit’ ia dengan (mengatakan) hani bapakmu.. dan jangan pakai kata kiasan.” 

Kata ‘hani’ artinya adalah kemaluan laki-laki. Hadits ini secara tegas membolehkan, bahkan memerintahkan, untuk mengatakan kalimat kotor ini pada orang yang berintisab dengan nasab jahiliah. Sebagai catatan, berintisab dengan nasab jahiliyah berarti kafir kepada Islam. Jadi ini bukan sesuatu yang sepele. 

Baca Juga

Tapi, bagaimana status hadits ini? Syekh Syu’aib al-Arnauth mengatakan hadits ini hasan. Syekh Albani mengatakan hadits ini sahih kalau seandainya Hasan al-Bashri mendengar hadits ini dari ‘Utaiy bin Dhamrah, karena Hasan adalah seorang mudallis dan dalam hadits ini ia menggunakan lafal ‘an.

‘Utaiy bin Dhamrah sendiri tidak disepakati ulama ketsiqahannya. Ibnu Sa’ad dan Ibnu Hibban mengatakannya tsiqah. Tapi Ali bin al-Madini mengatakannya majhul (lihat Tahdzib Tahdzib karya Ibnu Hajar).  

Syekh Utsman al-Khamis, seorang tokoh salafi saat ini, secara tegas mengatakan kalau hadits ini tidak shahih. Ia mengatakan, tidak mungkin Nabi mengatakan hal itu.   

Pertanyaan yang perlu dilontarkan adalah mengapa kita abaikan sekian banyak ayat dan hadits yang memerintahkan kita untuk berkata baik dan membalas keburukan dengan kebaikan?   

Allah سبحانه وتعالى berfirman : وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا البقرة : 83 “Dan katakan pada manusia (perkataan) yang baik…” 

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (آل عمران 134 “… dan orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” 

Dalam hadits yang masyhur diriwayatkan bahwa sekelompok Yahudi datang menemui Rasulullah ﷺ. Mereka berkata: “as-saamu alaikum…” Kata as-saamu berarti racun atau kebinasaan. Rasul hanya menjawab: “wa ‘alaikum…”. 

Sayyidah Aisyah yang mendengar hal itu dan menangkap apa yang mereka maksudkan, membalas: “Untuk kalian kebinasaan dan kutukan.” 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA