Sunday, 16 Rajab 1442 / 28 February 2021

Sunday, 16 Rajab 1442 / 28 February 2021

China: Australia Semestinya Malu

Selasa 01 Dec 2020 13:10 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Teguh Firmansyah

Pasukan Australia di Afghanistan.

Pasukan Australia di Afghanistan.

Foto: ABC
China tak mau meminta maaf ke Australia terkait foto yang diduga palsu.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- China menolak meminta maaf atas gambar kontroversial yang menggambarkan seorang tentara Australia dengan pisau dan seorang anak Afghanistan. Gambar tersebut sebelumnya diunggah oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Zhao Lijian, pada Senin (30/11).

Dalam gambar yang menunjukan adegan kekerasan ini, Zhao juga menulis jika China akan datang untuk membawa kedamaian. "Dikejutkan oleh pembunuhan warga sipil & tahanan Afghanistan oleh tentara Australia. Kami sangat mengutuk tindakan seperti itu, & menyerukan untuk meminta pertanggungjawaban mereka," katanya di Twitter menyertai gambar.

Meskipun ada kritik global yang meluas, China telah menolak untuk meminta maaf dan Zhao kemudian menyematkan gambar tersebut ke bagian atas profil Twitter terverifikasi miliknya. Gambar ini mendapatkan 38.700 suka dan 6.655 retweet meskipun ada peringatan "konten sensitif" dari Twitter.

Seperti dikutip dari laman Aljazirah, Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, telah menuntut permintaan maaf atas unggahan itu dan menyebutnya menjijikkan.

Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Hua Chunying mengatakan bahwa alih-alih menuntut permintaan maaf atas gambar tersebut, Australia seharusnya malu karena anggota militer melakukan kekerasan seperti itu.

"Pihak Australia telah bereaksi sangat keras terhadap kicauan rekan saya. Mengapa demikian? Apakah mereka berpikir bahwa pembunuhan tanpa ampun mereka terhadap penduduk sipil Afghanistan dibenarkan, tetapi kecaman atas kebrutalan yang begitu kejam tidak dibenarkan? Kehidupan Afghanistan penting!" ujar Hua.

Perilisan foto itu merupakan tanggapan atas hasil penyelidikan baru-baru ini di Australia. Dalam laporan tersebut terdapat bukti bahwa pasukan khususnya telah membunuh 39 warga sipil dan tahanan di Afghanistan. Australia telah meminta maaf kepada Afghanistan atas pembunuhan tersebut, yang sekarang menjadi subjek penyelidikan kriminal.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA