Thursday, 8 Jumadil Akhir 1442 / 21 January 2021

Thursday, 8 Jumadil Akhir 1442 / 21 January 2021

Al-Mushonnif

Ahad 29 Nov 2020 14:58 WIB

Red: Nur Hasan Murtiaji

Sejumlah santri memaknai kitab kuning saat mengaji Kilatan Kitab di Pondok Pesantren Almiizan, Sukaraja, Bogor, Jawa Barat, Rabu (15/5).

Sejumlah santri memaknai kitab kuning saat mengaji Kilatan Kitab di Pondok Pesantren Almiizan, Sukaraja, Bogor, Jawa Barat, Rabu (15/5).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Al-Mushonnif itu bahasa Arab klasik yang artinya penulis atau pengarang kitab.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Mukti Ali Qusyairi, Ketua LBM PWNU DKI Jakarta

Maulid Nabi yang diselenggarakan Majlis Ta'lim Hikmatul Ilmi dan Majlis Ta'lim Nurul Hikmah digelar di sebuah Masjid di Jalan Rambutan Manggarai, Jakarta Selatan pada Jumat, 27 November 2020. Di undangan tak disebutkan nama masjidnya.

Setelah saya sampai, saya terpana pada nama masjid yang terpampang di plang: Masjid Al-Mushonnif. Melihat nama al-Mushonnif itu --saya katakan dalam ceramah-- langsung saya teringat pada tumpukan kitab kuning yang berjilid-jilid yang menyimpan nama itu dengan baik. Sebab, al-Mushonnif itu bahasa Arab klasik yang artinya penulis atau pengarang kitab. Sinonim dengan kata muallif atau katib.

Hanya saja belakangan dalam percapakan modern, kata mushonnif sudah jarang digunakan, yang banyak digunakan kata muallim atau katib. Barangkali mushonnif merupakan kata yang lebih tua.

Hanya saja, kalau kata katib lebih umum dari mushonnif atau muallif. Kata katib bisa untuk sekretaris, juru tulis, atau penulis. Sedangkan mushonnif dan muallif identik untuk penulis dan pengarang kitab/buku.

Dugaan kuatku, ulama yang memberikan nama itu pasti ada maksud dan tujuan, dan sudah pasti seorang ulama yang mengerti dan jatuh cinta pada kitab kuning. Saya menduga dengan kuat, harapannya masjid ini bukan hanya untuk shalat jamaah dan jumatan saja, akan tetapi sekaligus sebagai tempat belajar dan mengaji kitab kuning agar masyarakat setempat mendapatkan pengetahuan agama yang luas dan mendalam. Tentu saja, DKM masjid ini sudah seharusnya melanjutkan cita-cita itu.

Dari masjid ini --saya katakan dalam ceramah-- semestinya tercipta gerakan literasi atau dalam bahasa yang agak gagah "revolusi literasi". Dengan ngaji kitab kuning, kita akan tahu betapa kehidupan dan kepribadian Nabi Muhammad SAW tertulis secara rinci, mendetail, luas, dan dalam. Boleh dibilang, sepanjang peradaban manusia, Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling lengkap kehidupan dan kepribadiannya tertulis dalam jutaan lembar dan ratusan ribu jilid kitab.

Lalu dalam ceramah, saya sebutkan satu per satu judul kitab yang merekam kehidupan Nabi, kitab hadits beserta kitab syarahnya, kitab sirah Nabi, sejarah, kitab tafsir, fikih, tasawuf, dan lainnya. Belum lagi biografi Nabi yang ditulis sarjana modern dari Timur seperti Syekh Ramadhan al-Buthi dengan Fiqhu as-Sirah-nya maupun Barat seperti Martin Ling. Belum lagi studi-studi akademik.

Mengapa kepribadian dan kehidupan Nabi ditulis secara rinci? Sebab, di dalamnya terdapat uswatun hasanah (teladan yang baik), pelajaran, wisdom, dan sumber hukum. Seluruh ulama dari seluruh madzhab, memposisikan hadits Nabi sebagai sumber kedua setelah Alquran.

Maulid Nabi yang diperingati sebagai ekspresi cinta kita kepada Nabi ini, maka cinta kita akan bertambah kuat jika kita mempelajari, membaca, dan memahami akhlak Nabi yang tertulis di dalam kitab klasik.

Dalam seluruh kitab tertulis bahwa Nabi kita adalah Nabi cinta dan bukan Nabi kebencian. Nabi kita adalah Nabi yang penuh lemah lembut dan bukan Nabi yang suka mencaci maki. Nabi kita adalah Nabi cinta damai dan menjunjung tinggi persatuan dan mengecam perpecahan.

Beliau berkata, wa la tafarraquu (jangan kalian berpecah belah). Nabi yang berkata pada istrinya, 'Aisyah, "Wahai 'Aisyah. Jangan kau balas umpatan dengan umpatan. Sesungguhnya Allah mencintai kelemahlembutan di setiap saat."

Dari hasil penelitian dan penelaahan para ulama salaf as-shalih pada akhlak Nabi, menghasilkan kesimpulan bahwa jika kita ingin mengubah akhlak dari buruk ke baik dan dari akhlak yang rendah ke akhlak mulia, maka dengan menempuh tiga tahap atau disebut 3 T: takhalliy, tahalliy, dan tajalliy. Agar mudah diingat, saya mengajak jamaah untuk bersama-sama melafazkan dengan suara kencang 3 T itu. 

Para jamaah penasaran dan pada berbisik apa sih yang dimaksud 3 T itu? Saya tahu itu. Lalu saya jelaskan bahwa takhalliy artinya mengosongkan atau membersihkan diri kita dari hal-hal yang mengotori hati dan jiwa, dari hal-hal yang merusak dan merugikan diri kita dan orang lain.

Kita harus membersihkan diri kita dari akhlak yang buruk, nafsu angkara murka, caci maki, dendam, iri hati, dengki, ujaran kebencian, permusuhan, dan semua hal yang merusak dan merugikan.

Tahap berikutnya tahalliy, artinya menghiasi diri kita dengan akhlak yang baik, nilai-nilai luhur, dan sopan santun. Setelah dua tahap dilalui, kemudian tajalliy, artinya mengejawantahkan atau mewujudkan secara nyata atau riil hal-hal yang manfaat dan maslahat bagi diri kita, bagi tetangga, handai tolan, teman, bangsa dan negara. 

Maulid Nabi ini dipimpin oleh seorang habib muda, Habib Kiai Muhammad Sayyid Yusuf Aidid (khadimul Majlis Ta'lim Hikmatul 'Ilmi yang membacakan marhabanan diiringi dengan terbangan/rebbana atau dalam bahasa Cirebon disebut 'genjring' atau 'band kepret' karena cara mainnya dengan dikepret (dipukul dengan cara ditampar). Dibuka oleh Dr KH Zakky Mubarak. Santunan anak yatim oleh Ustaz Ibrahim.

Para peserta pun tetap mengikuti protokol kesehatan; pakai masker, cuci tangan pakai sabun, dan dalam jumlah yang terbatas.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA