Sabtu 28 Nov 2020 13:27 WIB

DPR Minta Dilakukan Uji Coba Sekolah Tatap Muka

Muhammad Nur Purnamasidi mengakui, ada pro kontra soal KBM tatap muka di kelas.

Rep: Eva Rianti/ Red: Erik Purnama Putra
Anggota Komisi X DPR RI, Muhammad Nur Purnamasidi.
Foto: tangkapan layar
Anggota Komisi X DPR RI, Muhammad Nur Purnamasidi.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -– Anggota Komisi X DPR RI, Muhammad Nur Purnamasidi menyampaikan, perlunya dilakukan uji coba secara acak terkait dengan pelaksanaan sekolah tatap muka di tengah pandemi Covid-19.

“Jalan tengahnya, kami dengan menteri (Nadiem) kita sampling mana yang sudah siap kita laksanakan dengan kata kunci yang terpenting ortunya mau (mengizinkan anak). Kita coba agar menjadi contoh bagi yang lain,” tutur politikus Partai Golkar tersebut saat mengunjungi Pusat Pemerintahan Kota (Puspemkot) Tangerang Selatan, Banten, Jumat (27/11).

Muhammad menjelaskan, upaya uji coba tersebut dilakukan sebagai bahan evaluasi ketika nantinya sekolah tatap muka benar-benar kembali dimulai pada Januari 2021. “Kalau misalnya semua bersifat baik mungkin kita akan membuka lebih luas lagi. Kalau besok Januari kita lakukan semua itu khawatir ada klaster baru,” terangnya.

Muhammad mengaku, bermunculan beragam pandangan di tengah masyarakat, mengingat kasus Covid-19 masih terus terjadi. Namun, dia meyakini hal yang terpenting dilakukan dalam pelaksanaan sekolah tatap muka adalah penerapan protokol kesehatan dengan benar dan disiplin.

“Memang pro dan kontra, tetapi kita harus coba dengan standar protokol kesehatan. Makanya persoalan anak didik yang datang tidak semua 100 persen. Mulai dari 30 persen (jumlah anak didik yang masuk),” ujar Muhammad.

Muhammad meyakini, anak-anak didik bisa lebih tertib di sekolah nantinya saat sekolah tatap muka diberlakukan kembali. Hal itu, kata dia, butuh pengawasan yang ketat dari sejumlah pihak, mulai dari Satgas Covid-19, kepala sekolah, komite sekolah, hingga orang tua atau wali siswa.

“Ada pengawasannya, dan memang ini berdasarkan hasil kerjasama dan komitmen. Memang kita evaluasi, kita sampling tidak semuanya. Kita harus uji coba dulu, walau agak mengkhawatirkan,” kata Muhammad.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement