Thursday, 10 Ramadhan 1442 / 22 April 2021

Thursday, 10 Ramadhan 1442 / 22 April 2021

Ekonomi Anjlok, Madrid Tetap Banyak Nyalakan Lampu Natal

Jumat 27 Nov 2020 10:43 WIB

Red: Reiny Dwinanda

 Instalasi lampu kota dalam pameran Christmas Lights 2020 di Madrid, Spanyol, Kamis (26/11).

Instalasi lampu kota dalam pameran Christmas Lights 2020 di Madrid, Spanyol, Kamis (26/11).

Foto: EPA
Rangkaian lampu merupakan daya tarik wisata yang penting di Madrid, Spanyol.

REPUBLIKA.CO.ID, MADRID -- Ibu kota Spanyol, Madrid, menyalakan lampu Natal pada Kamis (26/11). Anggaran yang dihabiskan untuk menerangi 30 jalan dan alun-alun lebih banyak dibandingkan tahun lalu, meskipun ekonomi anjlok akibat pandemi Covid-19.

Spanduk lampu LED dengan warna merah dan kuning bendera Spanyol muncul di beberapa bagian kota, termasuk di bentangan lebih dari satu kilometer di sepanjang jalan raya yang melewati museum terkenal di dunia, Prado. Rangkaian lampu biasanya merupakan daya tarik wisata yang penting, tetapi tahun ini jumlah orang yang turun ke jalan jauh lebih sedikit karena pandemi.

Biaya penerangan di lebih dari 200 jalan yang didekorasi dianggarkan sebesar 3,17 juta euro (sekitar Rp 53 miliar), sedikit lebih tinggi dari 3,08 juta euro (sekitar Rp 51 miliar) setahun yang lalu. Rencana untuk membelanjakan lebih banyak lagi untuk lampu dibatalkan karena krisis COvid-19, kata dewan itu dalam sebuah pernyataan.

photo
Pohon natal ukuran besar berhiaskan lampu warna-warni dipasang di Madrid, Spanyol, Kamis (26/111). - (AP)

Spanyol memperkirakan hasil produksi ekonomi akan turun 11,2 persen tahun ini karena efek pandemi. Tahun lalu, pertumbuhannya dua persen.

Spanyol mulai 23 November mensyaratkan hasil negatif tes virus corona, yang diambil dalam waktu 72 jam menjelang keberangkatan, pada wisatawan yang datang dari negara-negara dengan risiko tinggi penularan Covid-19, kata kementerian kesehatan, Rabu (11/11). Aturan tersebut menambah serangkaian pembatasan di dalam negeri Spanyol.

Sebagai salah satu titik panas utama Covid-19 di Eropa dengan 1.417.709 kasus dan 40.105 kematian, Spanyol sejauh ini tidak meminta pengunjung untuk menunjukkan dokumen tes usap negatif pada saat kedatangan. Kini, Spanyol akan menggunakan kriteria Uni Eropa untuk menentukan negara-negara mana yang diklasifikasikan berisiko tinggi, kata kementerian.

Baca Juga

Negara itu sekarang mewajibkan pengunjung menunjukkan sertifikat hasil tes Covid-19 dalam bahasa Spanyol atau Inggris di bandara. Menteri Kesehatan Salvador Illa mengatakan, aturan itu akan berlaku untuk negara-negara non-Uni Eropa (EU) dengan lebih dari 150 kasus per 100 ribu orang selama 14 hari terakhir.

Negara-negara EU yang berada di atas tingkat kasus tersebut, atau negara EU dengan lebih dari 50 kasus per 100 ribu dan dengan lebih dari empat persen hasil tes positif corona, juga akan dikenai peraturan soal tes Covid pada pengunjung. Tidak akan ada pengujian di perbatasan darat Spanyol, menurut Illa.

"Kami akan meminta maskapai penerbangan untuk berkolaborasi dan memeriksa tes PCR (usap) pelancong sebelum naik," kata Illa seraya menyebut bahwa Spanyol tidak berencana memberlakukan karantina wajib pada warga asing yang baru datang.

sumber : Antara, Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA