Kamis 26 Nov 2020 22:37 WIB

Ketika Busana Muslim Inspirasi Wanita Eropa Elegan Berbusana

Busana wanita Eropa banyak terinspirasi wanita Muslim

Busana wanita Eropa banyak terinspirasi wanita Muslim .Muslimah berjilbab (ilustrasi)
Foto: AP
Busana wanita Eropa banyak terinspirasi wanita Muslim .Muslimah berjilbab (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Benarkah negara-negara Barat menghargai kebebasan menjalankan agama termasuk urusan jilbab umat Islam? Pertanyaan ini mencuat dalam sebuah ulasan di harian ternama Inggris, Guardian. Bahkan, tulis media ini, hak seorang wanita untuk memilih pakaian yang layak dikenakan di pantai pun terus menjadi kontroversi di belahan dunia ini. 

Pada 1907, perenang Australia pemecah rekor dunia, Annette Kellerman, ditangkap di Pantai Revere di Boston karena menggunakan baju renang one-piece, mirip burkini saat ini, tanpa lengan. Saat itu, ia dianggap cabul. Pengadilan memutuskan ia boleh mengenakan baju renangnya itu asalkan di luarnya ia mengenakan jubah penutup yang hanya boleh dilepas saat badannya sepenuhnya terendam dalam air. 

Baca Juga

Namun, ketika bikini diperkenalkan pada 1950-an, Kellerman menyatakan itu adalah sebuah kesalahan. "Hanya dua dari satu juta wanita yang bisa memakainya," katanya. "Bikini menunjukkan terlalu banyak (bagian tubuh) dan memakainya adalah sebuah kesalahan besar." 

Pemimpin umat Katolik sedunia saat itu juga mengecamnya. Paus menyebut pakaian renang two-pieces itu tak layak bagi wanita. Bikini dilarang di Italia, Spanyol, dan Portugal. Larangan tetap berlaku kendati aktris papan atas Hollywood Brigitte Bardot berpose di pantai Cannes dengan bikini pada tahun 1953 dan Ursula Andress muncul hanya dengan ber bikini dalam film Dr No pada 1962. 

Kini, lebih dari setengah abad kemudian, keadaan berbalik. Bikini dianggap sebagai satu-satunya pakaian yang pantas dikenakan di pantai untuk wanita; dan siapapun yang menolak mengenakannya tak layak berada di pantai. Prancis memulainya. Pakaian pantai, entah bagaimana, kemudian lari ke isu feminisme.  

Menteri Prancis urusan Hak-Hak Perempuan saat itu, Laurence Rossignol, menyebut burkini menindas perempuan. "Burkini memiliki logika yang sama seperti burqa: menyembunyikan tubuh perempuan untuk mengendalikan mereka," katanya. "Itu adalah simbol dari proyek politik yang bermusuhan dengan keragaman dan emansipasi perempuan." 

Rossignol bak lupa sejarah. Jika kembali menengok 170 tahun lalu, gaya busana yang diilhami cara wanita Muslim berbusana 'membebaskan' wanita Eropa. Saat itu, gaya busana perempuan Eropa dianggap terlalu mengekang; umumnya mengenakan gaun panjang yang tak hanya berat namun juga dipakai secara berlapis-lapis, selain kewajiban mengenakan korset yang ketat di dalamnya. 

Terinspirasi busana Muslim, aktris, penulis, dan aktivis anti-perbudakan Fanny Kemble, memulai 'pemberontakan' terhadap aturan berpakaian bagi wanita saat itu. Ia mengenakan pantalon longgar dengan padanan gaun pendek yang dianggapnya penuh semangat pembebasan bagi wanita. Munculnya "gaun Turki" dianggap sebagai angin segar, karena wanita tak harus repot dengan korset agar pinggang mengecil sekecil-kecilnya walaupun pemakainya nyaris pingsan karena susah bernafas. 

Aliran berbusana ala Kemble kemudian populer di kalangan penggiat hak-hak perempuan hingga ke Amerika Serikat. Aktivis perempuan Amelia Bloomer mengenakannya dan dimuat di Majalah The Lily pada 1851, dan apa yang di Amerika Serikat disebut dengan "gaun Bloomer" dengan cepat menjadi tren saat itu. Gereja menyebut pakaian ini terlalu ca bul, dan menjadi tanda bahwa perempuan telah melanggar wilayah laki-laki. 

Seiring waktu, gaun Bloomer men jadi biasa, dan justru evolusi fashion perempuan menjadikan penampilan mereka kian berani. Perubahan paling mencolok terjadi usai Perang Dunia Pertama, dengan munculnya apa yang dinamakan era Flapper. 

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement