Thursday, 10 Ramadhan 1442 / 22 April 2021

Thursday, 10 Ramadhan 1442 / 22 April 2021

Pengangguran Meningkat, Inggris Terpaksa Berutang

Kamis 26 Nov 2020 13:39 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Fuji Pratiwi

Pengemudi taksi mengibarkan bendera Inggris (ilustrasi). Peningkatan jumlah pengangguran mendorong Inggris melakukan pinjaman.

Pengemudi taksi mengibarkan bendera Inggris (ilustrasi). Peningkatan jumlah pengangguran mendorong Inggris melakukan pinjaman.

Foto: Reuters
Pemerintah Inggris berharap untuk meminjam 394 miliar pound tahun ini.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Jumlah pengangguran di Inggris diperkirakan melonjak menjadi 2,6 juta pada pertengahan 2021. Kondisi tersebut membuat Inggris melakukan pinjaman.

Dalam Spending Review, Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak mengatakan, darurat ekonomi yang disebabkan Covid-19 baru saja dimulai. Pemerintah Inggris berharap meminjam 394 miliar poundsterling tahun ini. Menurut Sunak, angka itu merupakan level tertinggi dalam sejarah masa damai Inggris, dilansir di BBC, Kamis (26/11).

Angka terakhir menunjukkan 1,62 juta orang menganggur, meningkat lebih dari 300 ribu sejak tahun lalu.

Baca Juga

Di House of Commons, Sunak mengatakan, pemerintah akan menghabiskan 280 miliar poundsterling tahun ini untuk membawa Inggris melewati pandemi virus corona.

Dia juga mengumumkan, sebagian besar pekerja sektor publik akan dibekukan gajinya pada level gaji terendah. Sementara perawat, dokter, dan staf sistem kesehatan nasional lainnya akan mendapatkan kenaikan gaji.

Pengeluaran untuk bantuan luar negeri, lanjut Sunak, sebagai bagian berasal dari pendapatan nasional, akan menjadi 0,5 persen pada 2021-2022, turun dari 0,7 persen yang saat ini ditetapkan dalam undang-undang.

Angka pengangguran Inggris terakhir kali mencapai 2,6 juta pada Mei hingga Juli 2012. Jumlahnya melebihi tiga juta pada periode 1983 hingga 1987 dan selama beberapa bulan pada awal 1993.

Sunak mengatakan kepada anggota parlemen, ekonomi Inggris diperkirakan mengalami kontraksi 11,3 persen tahun ini. Ini penurunan produksi terbesar selama lebih dari 300 tahun. Ekonomi Inggris diprediksi tumbuh 5,5 persen tahun depan dan 6,6 persen pada 2022.

"Bahkan dengan pertumbuhan kembali, output ekonomi kami diperkirakan tidak akan kembali ke tingkat sebelum krisis sampai kuartal keempat 2022. Dan kerusakan ekonomi kemungkinan besar akan berlangsung lama," kata Sunak.

Respons Covid-19 dari pemerintah, termasuk skema furlough, telah menyebabkan pengeluaran besar-besaran meningkat, pada saat pendapatan pajak turun.

Sunak mengatakan Inggris diharapkan untuk meminjam 394 miliar pound tahun ini, yang diperkirakan turun menjadi 164 miliar poundsterling tahun depan dan 105 miliar poundsterling pada 2022-2023.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA