Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Ekonomi Hingga Stigma Jadi Alasan Orang Enggan Tes Covid-19

Rabu 25 Nov 2020 02:42 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Friska Yolandha

Penularan virus corona SARS-CoV2 (Covid-19) masih terjadi dan banyak orang yang masih terinfeksi sehingga, testing Covid-19 yang masif sangat dibutuhkan. Namun masih banyak masyarakat yang enggan untuk menjalani tes ini karena berbagai penyebab, mulai dari ekonomi hingga stigma.

Penularan virus corona SARS-CoV2 (Covid-19) masih terjadi dan banyak orang yang masih terinfeksi sehingga, testing Covid-19 yang masif sangat dibutuhkan. Namun masih banyak masyarakat yang enggan untuk menjalani tes ini karena berbagai penyebab, mulai dari ekonomi hingga stigma.

Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Saat masyarakat kelas bawah dites Covid-19 dan positif, mereka tak bisa bekerja.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penularan virus corona SARS-CoV2 (Covid-19) masih terjadi dan banyak orang yang masih terinfeksi sehingga, testing Covid-19 yang masif sangat dibutuhkan. Namun masih banyak masyarakat yang enggan untuk menjalani tes ini karena berbagai penyebab, mulai dari ekonomi hingga stigma.

Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Bidang Perubahan Perilaku Turro Wongkaren menyebutkan beberapa faktor masyarakat yang belum mau menjalani tes Covid-19. "Ada macam-macan penyebabnya, seperti ekonomi, budaya, hingga stigma," katanya saat berbicara di konferensi virtual BNPB bertema Masyarakat Bijak Sadar 3T, Selasa (24/11).

Baca Juga

Faktor ekonomi, dia menambahkan, biasanya menjadi alasan masyarakat kelas menengah ke bawah. Ia menyebutkan ketika kelompok kelas ekonomi bawah dites dan hasilnya positif maka bisa jadi tidak boleh masuk kantor dan akhirnya tidak bisa mendapatkan uang makan, bahkan tidak bisa bekerja. Padahal, ia menambahkan, orang yang bekerja seperti office boy atau penjual bakso sangat mengandalkan penghasilan sehari-hari dan jika harus diisolasi selama 14 hari tentu berdampak pada pemasukan dan imbasnya tidak bisa memberikan keluarganya makanan. 

Selain itu, ia menyebutkan seringkali masyarakat bingung jenis testing Covid-19 seperti tes cepat (rapid test) dengan tes usap (swab). Penjelasan tes yang membingungkan ditambah dengan hasil testing yang tidak 100 persen benar atau kemungkinan false negative atau sebaliknya. Ini membuat masyarakat bisa berpikir hasil tes tersebut benar atau tidak. 

Kemudian, ia menyebutkan kenyamanan juga menjadi masalah bagi kalangan menengah ke atas. Seringkali orang yang hendak tes namun harus menunggu lama di ruang tunggu rumah sakit hingga berjam-jam justru membuat takut terinfeksi Covid-19. 

Kemudian, stigma juga menjadi masalah dan membuat orang takut menjalani tes Covid-19. "Nanti ketika dia positif atau reaktif Covid-19 maka apa yang orang katakan?orang juga takut kalau dikucilkan oleh keluarga besar," ujarnya.

Ia mengakui persoalan-persoalan dalam pengetesan Covid-19 ini tidaklah mudah. Padahal, dia melanjutkan, ketika pengetesan minim maka bisa jadi orang tanpa gejala ada dimana-mana kemudian menyebarkan penyakitnya ke orang lain tanpa diketahui. 

Oleh karena itu, pihaknya berkomitmen memberikan pemahaman mengenai pengetesan ini diperlukan karena jika enggan diperiksa atau testing rendah maka tidak ada yang tahu sejauh mana Covid-19 menyebar. Akibatnya, situasi ini bisa memperburuk suasana dan membuat penularan semakin meluas.

"Kita perlu memikirkan cara supaya bagaimana tes mempunyai makna lain. Di antaranya orang yang mau dites adalah pahlawan karena berani menghadapinya, toh ini untuk kepentingan masyarakat," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA