Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Muslim Inggris Dibolehkan Kembali Sholat Berjamaah di Masjid

Selasa 24 Nov 2020 10:25 WIB

Rep: Kiki Sakinah / Zahrotul Oktaviani/ Red: Esthi Maharani

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson

Foto: AP/Matt Dunham
Tempat ibadah di Inggris termasuk masjid dapat dibuka kembali untuk ibadah berjamaah

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Perdana Menteri Inggris, Borin Johnson, mengumumkan tempat-tempat ibadah di Inggris, termasuk masjid, dapat dibuka kembali untuk ibadah berjamaah mulai 2 Desember 2020 mendatang. Waktu tersebut berkenaan dengan berakhirnya lockdown nasional.

Dalam sebuah pernyataan kepada parlemen yang menguraikan Rencana Musim Dingin Covid-19 dari pemerintah, Johnson mengatakan bahwa pembatasan nasional di Inggris akan berakhir pada 2 Desember 2020. Hal itu berarti mulai Rabu pekan depan masyarakat akan dapat meninggalkan rumah mereka untuk tujuan apapun dan bertemu warga lainnya di ruang publik, sembari mematuhi Aturan Enam.

Johnson menambahkan, bahwa ibadah berjamaah, pernikahan dan olahraga di luar ruangan dapat kembali dilakukan. Sementara toko-toko, perawatan pribadi, pusat kebugaran dan sektor rekreasi yang lebih luar dapat dibuka kembali.

Sejak 5 November di Inggris, hanya masjid yang mampu mematuhi aturan terkait ibadah individu yang secara resmi dapat tetap dibuka untuk umum untuk beribadah.

"Untuk pertama kalinya sejak virus jahat ini menyebar, kami dapat melihat jalan keluar dari pandemi. Terobosan dalam pengobatan, dalam tes dan vaksin yang berarti kavaleri ilmiah sekarang sudah di depan mata dan kami tahu di dalam hati kami bahwa tahun depan kami akan berhasil," kata Johson, dilansir di 5Pillarsuk, Selasa (24/11).

"Pada musim semi, kemajuan ini akan mengurangi kebutuhan akan pembatasan yang telah kami alami pada 2020 dan membuat seluruh konsep lockdown Covid menjadi mubazir. Saat momen itu tiba, hal itu akan terwujud berkat pengorbanan jutaan orang di seluruh Inggris Raya," lanjutnya.

Namun demikian, Johnson mengatakan bahwa mereka belum sampai di sana. Karena itu, hal pertama mereka harus melewati musim dingin tanpa penyebaran virus yang tidak terkendali di tengah beban pada petugas kesehatan (NHS) yang selalu terbesar. Tanpa tindakan pencegahan yang masuk akal, menurutnya, mereka akan mengambil risiko virus meningkat ke dalam musim dingin atau gelombang Tahun Baru.

Namun, Johnson mengatakan bahwa mulai 2 Desember 2020 mendatang, Inggris akan kembali ke pendekatan berjenjang regional, dengan menerapkan tindakan terberat di mana Covid paling umum. Dengan demikian, di Tingkat 1 orang harus bekerja dari rumah jika memungkinkan.

Di tingkat 2, alkohol hanya boleh disajikan dalam suasana menerima tamu sebagai bagian dari makanan besar. Di tingkat 3, hiburan dalam ruangan, hotel dan akomodasi lainnya akan harus ditutup, dengan semua bentuk penerimaan tamu, kecuali untuk pengiriman dan pesan antar.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA