Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

Dibuka Menguat, Pasar Saham Diperkirakan Konsolidasi Melemah

Senin 23 Nov 2020 09:43 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Nidia Zuraya

Karyawan melintas didekat layar elektronik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta (ilustrasi). Prayogi/Republika.

Karyawan melintas didekat layar elektronik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta (ilustrasi). Prayogi/Republika.

Foto: Prayogi/Republika
IHSG pagi ini menguat lebih dari setengah persen ke posisi 5.603,58.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pasar saham domestik dibuka di zona hijau pada perdagangan Senin (23/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat lebih dari setengah persen ke posisi 5.603,58 dibandingkan penutupan perdangan akhir pekan lalu. 

Direktur Anugerah Investama Sekuritas, Hans Kwee, mengatakan, pasar saham masih mendapat sentimen positif daru perkembangan efektivitas vaksin Covid-19. "Pasar saham mengalami kenaikan akibat optimisme vaksin terlihat aliran dana masuk ke pasar saham," kata Hans, Senin (23/11). 

Sektor yang naik terutama bank, perjalanan pariwisata, dan komoditas. Selain itu, Hans melihat, investor mulai beralih ke saham Asia Tenggara sebagai rotasi global dari sektor bernilai tinggi (value) ke sektor yang bertumbuh (growth). 

Baca Juga

UBS Global Wealth Management menyarankan investor yang mencari imbal hasil tinggi harus beralih ke surat utang Asia dan emerging market di tahun depan. Menurut Hans, kenaikan pasar keuangan di Asia Tenggara termasuk Indonesia di tahun depan masih akan terjadi terutama bila vaksin efektif dan berhasil di distribusikan. 

Di tengah harapan vaksin yang merupakan sentimen positif di jangka menengah panjang, terjadi lonjakan kasus Covid-19 di beberapa negara. Di Amerika Serikat (AS) pekan lalu terjadi kenaikan rata-rata mingguan 26 persen kasus dibandingkan pekan sebelumnya.

Di tengah peningkatan kasus terjadi pembatasan aktivitas sosial untuk menurunkan tingkat penyebaran. Bill de Blasio, Walikota New York City memerintahkan sekolah menghentikan pembelajaran tatap muka. Centers for Disease Control and Prevention menyarankan warga AS agar tidak bepergian untuk merayakan Thanks giving. 

Hal yang hampir sama terjadi di beberapa negara Eropa mendorong potensi pertumbuhan negatif di kuartal keempat tahun 2020. "Peningkatan langkah penguncian ekonomi dapat menganggu proses pemulihan ekonomi dan menjadi sentimen negatif bagi pasar saham dunia," tutur Hans. 

Selain itu, pasar keuangan pelaku pasar keuangan juga memperhatikan masalah antara The Fed dan Departemen Keuangan terkait program kredit bantuan pandemi. Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan program kredit bantuan pandemi sebesar 455 miliar dolar AS untuk perusahaan kecil. Program ini dianggap penting bagi The Fed dan bila dihentikan akan berdampak tidak baik bagi perekonomian. 

Ketika kasus infeksi baru Covid,19 meningkat diikuti pembatasan kegiatan sosial dapat mendorong gelombang PHK baru dan perlambatan pemulihan ekonomi. Hal ini mengecewakan pelaku pasar keuangan yang berharap The Fed dan Departemen Keuangan dapat bekerja sama mengatasi dampak Pandemi yang akhir-akhir ini meningkat risikonya.

Dari dalam negeri, konsumsi masyarakat atau rumah tangga yang menyumbang lebih dari setengah produk domestik bruto Indonesia mengalami penyusutan 3,49 persen pada kuartal ketiga. Hal ini mendorong ekonomi ke dalam resesi untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade. Bank Indonesia (BI) pun kembali menurunkan BI 7-day (Reverse) Repo Rate menjadi 3,75 persen dari sebelumnya 4 persen untuk mendorong pertumbuhan kredit agar dapat menggerakan perekonomian. 

Pada kuartal keempat 2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan berada di level minus 1 persen hingga 0,4 persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi tahun 2020 diperkirakan akan berada di level minus 1,7 persen hingga 0,6 persen. Ekonomi diperkirakan baru akan membaik di tahun 2021 menjadi 4,5 persen sampai 5,5  persen. Tetapi hal ini sangat terpengaruh oleh vaksin Covid-19.

Meningkatnya kasus Covid-19 di beberapa negara dunia disertai mulai turunnya optimisme vaksin membuat Hans memperkirakan pasar saham akan konsolidasi melemah. "Ditambah masalah stimulus dan pasar keuangan yang naik banyak beberapa pekan terakhir sehingga membuka koreksi sehat IHSG," tutup Hans. 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA