Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

Arab Saudi Ingin Perbaiki Hubungan dengan Qatar

Senin 23 Nov 2020 08:05 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Bendera Arab Saudi.

Bendera Arab Saudi.

Foto: Eurosport
Qatar membantah tuduhan mendukung terorisme yang membuat dikucilkan Arab Saudi

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Arab Saudi tengah mencari cara untuk menyelesaikan keretakan hubungan selama tiga tahun dengan negara tetangganya di teluk, Qatar. Hal itu ditegaskan oleh Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud di sela KTT G20, Sabtu (21/11) lalu.

"Kami masih bersedia untuk terlibat dengan saudara-saudara kami di Qatar dan kami berharap mereka juga berkomitmen untuk keterlibatan itu,” kata pangeran Faisal seperti dilansir laman Aljazirah, Senin (23/11).

Baca Juga

"Namun kami juga perlu mengatasi masalah keamanan yang sah dari empat negara dan saya pikir ada jalan menuju itu dengan solusi dalam waktu yang relatif dekat," ujarnya menambahkan.

Sengketa Teluk dimulai pada 2017 ketika Bahrain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan non-anggota GCC Mesir memberlakukan boikot terhadap Qatar. Negara-negara itu memutuskan hubungan diplomatik dan transportasi, dan menuduh Qatar mendukung terorisme.

Qatar dengan tegas membantah semua tuduhan terhadapnya. Bulan lalu, Pangeran Faisal mengatakan Arab Saudi berkomitmen untuk menemukan resolusi. Pada pekan lalu juga, Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan, tidak ada pemenang dalam krisis Teluk. Dia juga berharap masalah ini akan berakhir "kapan saja".

Namun Yousef al-Otaiba, duta besar UEA untuk AS, mengatakan kepada media Israel bahwa dia tidak yakin resolusi akan segera terjadi. "Saya tidak berpikir ini akan diselesaikan dalam waktu dekat hanya karena saya pikir tidak ada introspeksi," kata al-Otaiba.

Beberapa upaya di masa lalu untuk mengakhiri perselisihan telah gagal. Sebab, Qatar telah menolak tuntutan negara-negara pemblokiran yang mencakup penutupan Jaringan Media Aljazirah, memutuskan hubungan dengan kelompok-kelompok Islam, membatasi hubungan dengan Iran dan mengusir pasukan Turki yang ditempatkan di negara itu. Hingga kini, Qatar terkucilkan karena menganggap semua tuntutan itu tidak masuk diakal.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA