Ahad 22 Nov 2020 14:45 WIB

Inggris akan Ganti Lockdown dengan Sistem Berjenjang Ketat

Inggris akan beralih dari lockdown ke pembatasan regional berjenjang yang lebih ketat

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Christiyaningsih
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. Inggris akan beralih dari lockdown ke pembatasan regional berjenjang yang lebih ketat untuk atasi pandemi. Ilustrasi.
Foto: AP/Matt Dunham
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. Inggris akan beralih dari lockdown ke pembatasan regional berjenjang yang lebih ketat untuk atasi pandemi. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON - Inggris mencatat 19.875 kasus Covid-19 baru pada Sabtu (21/11) waktu setempat. Sebanyak 341 orang meninggal dunia dari orang yang dites positif terkena virus dalam 28 hari.

Kedua angka tersebut menandai penurunan angka dari kasus dan kematian. Data satu hari sebelumnya menunjukkan kenaikan harian 20.252 kasus dan 511 kematian akibat Covid-19 di seluruh Inggris.

Baca Juga

Inggris juga akan segera mengakhiri lockdown atau karantina wilayah nasional pada 2 Desember mendatang. Inggris akan beralih ke pembatasan regional berjenjang yang kemungkinan lebih ketat daripada sebelumnya.

Hal itu dilakukan untuk menghadapi kendala lebih parah untuk mencegah virus agar tidak muncul kembali. Kantor Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan perdana menteri akan menetapkan Rencana Musim Dingin Covid baru pada Senin mendatang. Rencana itu menetapkan bahwa lebih banyak area ditempatkan ke dalam batasan yang lebih tinggi di bawah sistem berjenjang.

"Perdana Menteri dan penasihat ilmiah yakin virus itu masih ada. Tanpa batasan regional, virus akan lepas kenadali lagi sebelum vaksin dan pengujian massal berpengaruh," ujar seorang juru bicara pemerintah.

"Hal itu akan membahayakan kemajuan yang telah dibuat negara dan sekali lagi berisiko mengalami tekanan yang tidak dapat ditoleransi pada NHS (Layanan Kesehatan Nasional)," ujarnya menambahkan.

Johnson akan membahas dengan kabinetnya yang terdiri dari para menteri terkemuka pada Ahad waktu setempat dan hadir di parlemen pada Senin. Rencananya ia juga akan memasukkan detail tentang interaksi saat Natal.

Para menteri akan mengumumkan area mana yang akan ditempatkan di tingkat pembatasan mana pada Kamis. Anggota parlemen dapat memberikan suara pada sistem sebelum diberlakukan. Tingkatan tersebut akan ditinjau.

Langkah tersebut kemungkinan akan mendapat perlawanan keras dari beberapa anggota parlemen yang berpendapat bahwa negara tersebut tidak mampu untuk menutup toko dan perhotelan lagi setelah angka pengangguran dan utang melonjak serta output ekonomi anjlok 20 persen pada kuartal kedua. Pemerintah berpendapat bahwa virus itu akan membanjiri rumah sakit dan melumpuhkan ekonomi jika dibiarkan.

Oposisi Partai Buruh mengatakan paket dukungan akan dibutuhkan untuk setiap bisnis yang harus ditutup. Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara juga berada di bawah berbagai tingkat pembatasan, yang ditetapkan oleh pemerintah daerah mereka.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memerintahkan untuk mengarantina wilayah selama sebulan pada awal November lalu setelah kasus infeksi dan kematian kembali meningkat. Data resmi menunjukkan gelombang kedua infeksi mulai merata.

Namun penasihat ilmiah diharapkan memperingatkan pembatasan regional sebelumnya tidak cukup jauh. Tindakan lebih keras diperlukan untuk mencegah lockdown nasional lainnya.

Inggris merupakan negara dengan jumlah kematian terburuk di Eropa dan kontraksi ekonomi terdalam di antara negara G7 mana pun. Hal ini memicu kritik tajam terhadap penanganan pandemi Johnson.

Sebelum kebijakan lockdown terbaru, Inggris telah ditempatkan ke dalam tiga tingkatan pembatasan. Tindakan terberat diberlakukan di Inggris utara. Di sana pergerakan dibatasi dan pub terpaksa ditutup kecuali jika mereka menjual makanan dalam jumlah besar.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement