Jumat 20 Nov 2020 15:24 WIB

Benarkah Barat Penuh dengan Toleransi, Utamanya ke Islam?

Dunia Barat selama ini mengklaim paling toleran dan multikultural

Dunia Barat selama ini mengklaim paling toleran dan multikultural.  Seorang warga Muslim berjalan melewati tulisan penghinaan rasial yang dilukis di dinding masjid di kota Saint-Étienne di Prancis tengah.
Foto: google.com
Dunia Barat selama ini mengklaim paling toleran dan multikultural. Seorang warga Muslim berjalan melewati tulisan penghinaan rasial yang dilukis di dinding masjid di kota Saint-Étienne di Prancis tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Dunia Barat, apakah Eropa ataupun Amerika Utara dan Australia, adalah contoh paradoks multikulturalisme. Ide-ide tentang kebebasan, persamaan, dan hak asasi manusia tumbuh dan berkembang di sana. Bahkan, beberapa abad lamanya Eropa Barat dan Amerika Utara menjadi rujukan utama untuk belajar kebebasan, persamaan, HAM, dan demokratisasi.

Namun, di dunia Barat pula sikap-sikap intoleran terhadap kultur, ras, etnis, dan bangsa lain tetap tumbuh subur. Masih banyak penduduk Barat yang berkehendak negerinya cukup dihuni  satu etnis saja. Satu identitas kultur yang bersifat homogen. Bukan untuk pendatang berkulit berwarna, apalagi imigran Muslim. 

Baca Juga

Pada tataran tertentu, sikap intoleran ini bisa berkembang menjadi rasisme dan xenofobia. Ketakutan berlebihan terhadap orang-orang asing atau yang dianggap berbeda dari mainstream. 

Geert Wilders, anggota parlemen Belanda yang membuat film Fitna pada 2008 yang sarat dengan kebencian terhadap Islam dan imigran Muslim adalah contoh ekstremnya. Geert menyamakan Alquran dengan Mein Kampf, ‘kitab suci’-nya Hitler. Ia menolak rencana pembangunan masjid-masjid baru di Belanda, aktif berkampanye menentang masuknya imigran Muslim ke Netherlands atas nama “Anti-Islamisasi Netherlands”.

Jangan lupakan juga kasus Marwa El Sherbini. Muslimah Mesir yang tinggal di Dresden, Jerman, ini dibunuh seorang xenofobis lain, Alex Wiens, warga negara Jerman keturunan Russia, persis di dalam ruang pengadilan Dresden pada 1 Juli 2009.

Ia ditikam 15 kali dan suaminya 16 kali. Marwa menjemput syahidnya dan suaminya koma selama dua hari, namun tetap hidup. Parahnya, pada saat kejadian Marwa tengah hamil tiga bulan dan penikaman dilakukan persis di depan anaknya yang berusia tiga tahun. Tak cukup itu, polisi Dresden kemudian justru menembak Suami Marwa, Okaz, yang melawan serangan Alex hingga ikut ditikam berkali-kali. Okaz dianggap pelaku oleh polisi dan ditembak kakinya.

Peristiwa ini memancing kemarahan besar dari kaum Muslim Eropa dan dunia. Marwa kemudian disebut sebagai martyr of hijab. Sebab, serangan Alex kepada Marwa bermula dari hinaan verbalnya kepada Marwa di suatu taman bermain anak di Dresden pada Agustus 2008.

Pertengkaran akibat berebut fasilitas bermain anak antara Alex dan Marwa berujung dengan hinaan Alex yang menyebut Marwa sebagai “Islamist”, “terroris”, dan “slut” (pelacur). Marwa melaporkan Alex kepada polisi hingga akhirnya ia disidangkan di pengadilan. Namun, pengadilan ternyata bukan tempat yang aman. Alex tetap bisa membawa pisau dan menikam Marwa dan suaminya di dalam pengadilan. 

 

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement