Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Mengapa Allah SWT Mempunyai Sifat Rahman dan Rahim?

Jumat 20 Nov 2020 10:16 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nashih Nashrullah

Allah SWT mempunyai sifat rahman dan rahim untuk makhluk hidup. Ilustrasi lafaz Allah

Allah SWT mempunyai sifat rahman dan rahim untuk makhluk hidup. Ilustrasi lafaz Allah

Allah SWT mempunyai sifat rahman dan rahim untuk makhluk hidup

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ahli Tafsir Indonesia, Prof Quraish Shihab, dalam kitab Tafsir Al-Mishbah, menjelaskan tentang makna kata Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Kedua kata itu mendominasi sifat-sifat Allah SWT lainnya sebagaimana banyak dikutip dalam Alquran.

Beliau menjelaskan, apabila seseorang mengucapkan kata ‘Allah’, maka akan terlintas atau seyogianya terlintas dalam benaknya segala sifat kesempurnaan. Allah Mahakuat, Mahabijaksana, Mahakaya, Mahaberkreasi, Mahapengampun, Mahaindah, Mahasuci, dan Mahasegalanya.

Baca Juga

Seseorang yang mempercayai Allah, pasti meyakini bahwa Allah adalah Mahasempurna dari segala hal dan Mahasuci dari segala sifat kekurangan. Sifat-sifat Allah yang diperkenalkan cukup banyak. 

Dalam salah satu hadits dikatakan bahwa sifat atau nama-nama Allah berjumlah 99 nama/sifat. Demikian banyak nama/sifat Allah, namun yang terpilih dalam basmalah hanya dua sifat. 

Yaitu kata sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang keduanya terambil dari akar kata yang sama. Agaknya, kata beliau, kedua sifat tersebut dipilih karena sifat itulah yang paling dominan. Dalam hal ini, Allah SWT menegaskan dalam Alquran surah Al-A’raf penggalan ayat 156 berbunyi: 

 ۖ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ “Wa rahmati wasi’at kulla syai’in,”. Yang artinya: “Rahmat-Ku mencakup segala sesuatu.” 

Maka kedua kata tersebut, yakni Ar-Rahman dan Ar-Rahim berakar dari kata Rahim yang juga telah termasuk dalam perbendaharaan bahasa Indonesia dalam arti ‘peranakan’. Apabila disebut kata rahim, maka umumnya orang Indonesia akan terlintasi makna ibu dan anak. Dari sana maka terbayanglah betapa besar rasa kasih sayang yang dicurahkan sang ibu kepada anaknya.

Namun demikian beliau menegaskan, jangan disimpulkan bahwa sifat rahmat Allah SWT sepadan dengan sifat rahmat ibu, betapapun besarnya kasih sayang seorang ibu. Karena Allah bukanlah zat yang dapat disamakan dengan makhluk atau jenis apapun.

Di sisi lain dalam menguak sifat rahman dan rahim Allah SWT, Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat Abu Hurairah: 

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله  ﷺ يقول: جعل الله الرحمة مائة جزء، فأمسك عنده تسعة وتسعين، وأنزل في الأرض جزءًا واحدًا، فمن ذلك الجزء يتراحم الخلائق، حتى ترفع الدابة حافرها عن ولدها خشية أن تصيبه

“Allah SWT menempatkan rahmat menjadi 100 bagian. Dia menyimpan ini satu bagian. Satu bagian inilah yang dibagi pada seluruh makhluk (begitu meratanya sampai-sampai satu bagian yang dibagikan itu diperoleh pula oleh) seekor binatang yang mengangkat kakinya karena dorongan kasih sayang, khawatir jangan sampai menginjak anaknya.” 

Lebih lanjut beliau menjelaskan, curahan rahmat Allah secara aktual pun dilukiskan dengan kata Rahman, sedang sifat yang dimiliki-Nya seperti tergambar dalam hadis di atas dilukiskan dengan kata Rahim. Gabungan kedua kata itu menyiratkan bahwa Allah SWT mencurahkan rahmat kepada makhluk-Nya karena memang Dia merupakan zat Yang Memiliki sifat itu.

Dengan kata Ar-Rahman maka digambarkan bahwa Allah SWT sebagai sifat yang mencurahkan rahmat yang bersifat sementara di dunia ini. Sedangkan Ar-Rahim adalah rahmat-Nya yang bersifat kekal. Rahmat-Nya di dunia yang sementara ini meliputi seluruh makhluk, tanpa kecuali dan tanpa membedakan antara mukmin dan kafir.

Sedangkan rahmat yang kekal adalah rahmat-Nya di akhirat. Tempat kehidupan yang kekal yang hanya akan dinikmati oleh makhluk-makhluk yang mengabdi kepada-Nya. Di sisi lain, para ulama sebagaimana yang dijabarkan beliau, menjelaskan makna penggabungan kata Allah dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahim dalam basmalah.

Meurut para ulama, seorang yang jika bermaksud memohon pertolongan kepada Dia yang berhak disembah dan Dia Yang Mencurahkan aneka nikmat, maka yang bersangkutan menyebut nama tergantung dari zat yang wajib wujudnya itu sebagai pertanda kewajaran-Nya untuk dimintai.

Selanjutnya menyebut sifat rahmat-Nya untuk menunjukkan bahwa Dia wajar melimpahkan rahmat sekaligus wajar dimintai pertolongan dalam amal-amal kebajikan karena yang demikian itu adalah nikmat rahmat. Selanjutnya dinyatakan bahwa curahan rahmat-Nya adalah wajar karena Dia memiliki sifat rahmat yang melekat pada dirinya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA