Jumat 20 Nov 2020 09:28 WIB

IMF: Gelombang II dan III Covid-19 Ganggu Pemulihan Ekonomi

Harapan mengalahkan virus makin tinggi didorong penemuan vaksin.

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolandha
Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/ IMF) menyebutkan, ekonomi dunia kini menghadapi pertumbuhan yang lebih lambat seiring dengan gelombang kedua dan ketiga di negara-negara maju. Kondisi ini terjadi di tengah tren perbaikan pada ekonomi utama seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa pada kuartal ketiga.
Foto: EPA-EFE/JIM LO SCALZO
Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/ IMF) menyebutkan, ekonomi dunia kini menghadapi pertumbuhan yang lebih lambat seiring dengan gelombang kedua dan ketiga di negara-negara maju. Kondisi ini terjadi di tengah tren perbaikan pada ekonomi utama seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa pada kuartal ketiga.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/ IMF) menyebutkan, ekonomi dunia kini menghadapi pertumbuhan yang lebih lambat seiring dengan gelombang kedua dan ketiga di negara-negara maju. Kondisi ini terjadi di tengah tren perbaikan pada ekonomi utama seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa pada kuartal ketiga.

Direktur IMF Kristalina Georgieva menjelaskan, harapan untuk mengalahkan virus yang sudah merenggut lebih dari satu juta nyawa di seluruh dunia dan menyebabkan puluhan juta orang kehilangan pekerjaan kini semakin tinggi. Kemajuan signifikan dalam penemuan vaksin menjadi faktor utamanya.

Baca Juga

Tapi, kondisi sebaliknya terjadi pada sektor ekonomi. "Sementara solusi medis sudah semakin terlihat, jalur ekonomi kini harus menghadapi masa-masa sulit dan rentan terhadap kemunduran," kata Georgieva dalam catatan yang disiapkan untuk G20 Leaders Summit secara virtual, seperti dilansir di AP News, Jumat (20/11),

IMF mencatat, banyak risiko yang akan menghantui pertumbuhan ekonomi. Di antaranya ancaman gelombang wabah baru yang mungkin membutuhkan kebijakan lockdown atau pembatasan sosial secara lebih ketat. Perkembangan seperti itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah, utang publik lebih tinggi dan cedera pada potensi ekonomi jangka panjang yang lebih parah.

Georgieva mengatakan, penting bagi pemerintah untuk tetap memberikan dukungan ekonomi kepada dunia usaha. Penurunan jumlah bantuan atau penarikan secara dini akan berdampak buruk terhadap ekonomi.

Ia merekomendasikan negara-negara besar untuk mempertimbangkan investasi yang disinkronkan dalam infrastruktur sebagai upaya penciptaan lapangan kerja. "Intinya adalah kita dapat mendorong pertumbuhan, pekerjaan dan mengatasi perubahan iklim dengan jauh lebih efektif jika kita bekerja sama," tulis Georgieva.

Pada bulan lalu, IMF memproyeksikan, ekonomi global akan terkontraksi 4,4 persen pada tahun ini yang menjadi catatan bersejarah. Pemulihan parsial dan tidak merata akan terjadi pada tahun depan dengan pertumbuhan global yang rebound 5,2 persen.

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) pemimpin G20 secara virtual, yang dipimpin Arab Saudi sebagai ketua G20 tahun ini, akan fokus pada upaya untuk menstabilkan ekonomi global dan diharapkan mendorong rebound pada tahun depan.

KTT para pemimpin G20 dimulai pada 2008 dalam upaya menemukan cara bagi negara-negara ekonomi utama dunia untuk bekerja sama dalam mengatasi penurunan global yang terjadi setelah krisis keuangan 2008. Diketahui, krisis tersebut mendorong ekonomi global ke jurang resesi yang dalam.

Selain kekuatan ekonomi tradisional seperti AS, Jepang, Jerman, Prancis dan Inggris, G20 mencakup negara berkembang berskala besar termasuk Cina dan India.

sumber : AP News
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement