Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

BI: Insya Allah, Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV Positif

Jumat 20 Nov 2020 02:48 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolandha

Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan Pelabuhan Patimban, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (18/11).. Bank Indonesia optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2020 akan mulai memasuki zona positif.

Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan Pelabuhan Patimban, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (18/11).. Bank Indonesia optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2020 akan mulai memasuki zona positif.

Foto: Antara/Raisan Al Farisi
Ekonomi diperkirakan membaik dengan membaiknya pertumbuhan global.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2020 akan mulai memasuki zona positif. Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan ekonomi domestik membaik sejalan meningkatnya realisasi stimulus fiskal dan mobilitas masyarakat, serta membaiknya permintaan global.

"Meningkatnya realisasi stimulus dan membaiknya mobilitas masyarakat menopang perbaikan permintaan domestik secara bertahap baik konsumsi maupun investasi," katanya dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (19/11).

Sementara itu, kinerja ekspor juga membaik, didorong permintaan global terutama dari AS dan China. Ia mengatakan perbaikan ekonomi domestik yang terus berlanjut tercermin pada perkembangan positif sejumlah indikator pada Oktober 2020, seperti mobilitas masyarakat, penjualan eceran nonmakanan dan online, PMI Manufaktur, serta pendapatan masyarakat. 

Pertumbuhan ekonomi diprakirakan meningkat pada 2021 didorong oleh membaiknya perekonomian global serta akselerasi realisasi anggaran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, kemajuan dalam program restrukturisasi kredit. Serta berlanjutnya stimulus moneter dan makroprudensial Bank Indonesia.

"Bank Indonesia melalui bauran kebijakannya akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah dan otoritas terkait agar berbagai kebijakan yang ditempuh semakin efektif mendorong pemulihan ekonomi," katanya.

Sementara itu, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara menduga pertumbuhan ekonomi kuartal IV masih akan berada di zona negatif. Ia mengatakan pertumbuhan ekonomi kuartal IV masih kontraksi dua persen.

Libur panjang Natal dan Tahun Baru diproyeksi belum mendorong kenaikan konsumsi rumah tangga karena kelas menengah atas masih menahan belanja. Belanja pemerintah memang didorong naik, tapi kontribusi terhadap total PDB tidak mencapai 10 persen.

Kinerja ekspor ada rebound dan ini yang buat ekonomi lebih baik dari kuartal III 2020. Rebound terlihat dari data per Oktober adanya kenaikan ekspor non migas ke China, dan negara ASEAN. Sementara impor masih turun terutama impor bahan baku dan barang konsumsi.

"Kesimpulannya ada kontraksi yang tidak terlalu dalam pada kuartal disebabkan faktor eksternal dari pemulihan negara tujuan ekspor bukan perbaikan aktivitas ekonomi domestik," katanya.

Untuk tahun depan, Bhima memproyeksi pertumbuhan ekonomi di level 2,5-3 persen. Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah mengatakan CORE mengatakan, pertumbuhan ekonomi tahun 2021 berada dalam range 3-6 persen. Menurutnya, Indonesia punya peluang untuk tumbuh enam persen atau lebih jika pandemi bisa berakhir lebih awal dan pemerintah mampu memanfaatkan momentum.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA