Wednesday, 24 Syawwal 1443 / 25 May 2022

Distribusi Vaksin Merah Putih Baru Awal 2022

Kamis 19 Nov 2020 20:36 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Indira Rezkisari

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menjelaskan vaksin merah putih paling cepat bisa diserahkan ke Bio Farma di 2021 akhir.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menjelaskan vaksin merah putih paling cepat bisa diserahkan ke Bio Farma di 2021 akhir.

Foto: BPIP
Vaksin merah putih masih dalam tahap penelitian preklinis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Proses produksi vaksin merah putih diyakini masih panjang. Satgas Penanganan Covid-19 memperkirakan, produksi dan distribusi vaksin merah putih baru bisa dilakukan pada awal 2022 atau lebih dari setahun lagi.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menjelaskan, vaksin yang dikerjakan oleh enam pihak yang terdiri dari perguruan tinggi dan lembaga ini masih dalam penelitian preklinis. Paling cepat, ujarnya, bibit vaksin merah putih baru bisa diserahkan kepada Bio Farma pada 2021 mendatang. Setelahnya, uji klinis baru bisa dilakukan.

Baca Juga

"Jika seluruh tahapan uji klinis ini berjalan baik maka izin edar vaksin merah putih diproyeksikan diperoleh pada akhir 2021 dan didistribusikan pada awal 2022," kata Wiku.

Sebagai informasi, produksi vaksin merah putih memang berbeda dengan vaksin impor seperti Sinovac dari China. Vaksin merah putih yang produksinya dipimpin oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman ini lebih rumit karena hanya menyasar protein tertentu dari virus corona.

Sebagai konsekuensinya, proses penelitian pun harus berlangsung lebih lama ketimbang uji klinis tahap III dari calon vaksin yang diproduksi Sinovac-Bio Farma. Bila vaksin Sinovac ditargetkan produksi pertengahan 2021, maka vaksin Eijkman diperkirakan bisa produksi massal pada akhir 2021 atau awal 2022.

Dalam wawancara dengan Republika sebelumnya, Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof. Amin Soebandrio, menjelaskan apa perbedaan vaksin yang dikembangkannya dengan vaksin impor.

"Bedanya adalah di platform. Vaksin Sinovac menggunakan virus utuh, mereka mengkultur virusnya, kemudian setelah diperoleh virus dalam jumlah besar kemudian virusnya dimatikan dengan bahan kimia. Kemudian ya setelah dibersihkan, langsung bisa dipakai. Ya makanya prosesnya lebih cepat," jelas Amin.

Sementara vaksin yang dikembangkan oleh Eijkman tidak menggunakan virus utuh, melainkan hanya menyasar dua jenis protein yang memang menjadi sasaran. Eijkman melakukan isolasi terhadap dua jenis protein yang diperlukan, yakni Protein S dan N. Kedua protein inilah yang akan digunakan dalam vaksin nanti.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA