Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

Kubu MA Tanggapi Tudingan PDIP Soal Politik Memecah-belah

Kamis 19 Nov 2020 19:41 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Ratna Puspita

Pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya nomor urut dua Machfud Arifin (kiri) dan Mujiaman (kanan) menanggapi jawaban pasangan nomor urut satu Eri Cahyadi dan Armuji saat Debat Publik kedua Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Surabaya di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (18/11/2020). Debat publik kedua tersebut membahas tema tentang Peningkatan Pelayanan dan Kesejahteraan Masyarakat Kota Surabaya.

Pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya nomor urut dua Machfud Arifin (kiri) dan Mujiaman (kanan) menanggapi jawaban pasangan nomor urut satu Eri Cahyadi dan Armuji saat Debat Publik kedua Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Surabaya di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (18/11/2020). Debat publik kedua tersebut membahas tema tentang Peningkatan Pelayanan dan Kesejahteraan Masyarakat Kota Surabaya.

Foto: Antara/Moch Asim
Kubu MA malah heran jika pengurus PDIP merasa partainya bisa dipecah belah. 

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Direktur Komunikasi dan Media Tim Pemenangan Machfud Arifin-Mujiaman Sukirno, Imam Syafi'i, menanggapi pernyataan Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Djarot Saiful Hidayat yang menuding lawannya di Pilkada Surabaya 2020 menerapkan politik pemecah belah ala kolonial. Imam malah heran jika pengurus PDIP merasa partainya bisa dipecah-belah. 

Apalagi, kata Imam, PDIP merupakan partai penguasa saat ini. "Justru kita bertanya PDIP ini kan partai besar, partai penguasa, partai yang sudah bertahun-tahun, sudah biasa ditekan sama pemerintah Orde Baru. Harusnya soliditasnya sangat kuat. Mana mungkin Pak MA Pak Mujiaman bisa melakukan intervensi untuk memecah-belah mereka," kata Imam dikonfirmasi Kamis (19/11).

Imam mengingatkan, ketika ada permasalahan di internal PDIP, Djarot harusnya bisa lebih bisa mencari penyebab permasalahan tersebut. Jangan malah menyalahkan pihak lain. 

Baca Juga

"Menurut saya lebih baik introspeksi. Kalau ada api di dalam, jangan kemudian menyalahkan tetangga. Lihat api itu asalnya dari mana gitu," ujar Imam.

Djarot menuduh pasangan MA-Mujiaman menerapkan politik memecah belah setelah merapatnya Jagad Hariseno ke kubu lawan. Padahal, yang bersangkutan merupakan kader murni PDIP. 

Imam mengatakan, Jagad Hariseno merapat ke kubu MA-Mujiaman didasari pertimbangan dan pemikiran panjang. Imam hanya menegaskan, kubu MA-Mujiaman tidak perna memaksa atau membujuk Jagad Hariseno untuk merapat ke kubu MA-Mujiaman.

"Mas Seno Saya yakin kader PDIP 24 karat paham betul langkah-langkahnya itu kan pasti sudah didasari pertimbangan masuk akal dan pemikiran yang panjang sebelum menyatakan mendukung Pak MA. Kita tidak pernah memaksa, membujuk-bujuk, apalagi sampai melakukan politik pecah belah," ujar Imam.

Sebelumnya, Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Saiful Hidayat menyatakan kesiapannya melawan adanya strategi pecah belah pada Pilkada Surabaya. Ia menilai strategi pecah belah disuarakan kubu lawan dengan tujuan melemahkan dukungan terhadap pasangan calon Eri Cahyadi-Armujidi.

Menurutnya, strategi yang dipakai adalah memecah belah, termasuk mendekati putra sulung almarhum mantan sekjen DPP PDI Perjuangan I. Soetjipto (Pak Tjip) Jagad Hariseno. "Politik pemecah belah selama masa kolonial selalu dilawan oleh seluruh anak bangsa, termasuk NU, Muhammadiyah, dan PNI saat itu. Jadi rasanya kurang elok kalau tim Machfud-Mujiaman menjalankan politik adu domba, termasuk apa yang dilakukan oleh Mat Mochtar. Sebab itu cara kolonial yang ditentang arek-arek Surabaya," katanya. 

 
 

BERITA LAINNYA