Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Benarkah Makanan yang Tampak Cantik Lebih Sehat?

Rabu 18 Nov 2020 21:35 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Qommarria Rostanti

Roti panggang alpukat (ilustrasi).

Roti panggang alpukat (ilustrasi).

Foto: www.freepik.com
Studi oleh peneliti dari University of California ini melibatkan 803 orang.

REPUBLIKA.CO.ID, CALIFORNIA -- Peneliti Linda Hagen dari University of Southern California di Los Angeles menemukan, sebagian orang menganggap makanan yang tampak cantik atau enak justru lebih sehat. Penelitian berjudul "Pretty Healthy Food: How and When Aesthetics Enhance Perceived Healthiness" ini diterbitkan di Journal of Marketing.

Linda menyebut, orang-orang terpapar sekitar 4.013 makanan dan 2.844 iklan restoran setiap tahun. Iklan tersebut menampilkan gambar makanan yang tampak sempurna dan ditata dengan cermat untuk kamera.

Iklan menggunakan gambar untuk memicu bagian otak yang merasakan rasa. Kemudian, otak mengaktifkan memberi kita sedikit 'rasa' dari pengalaman bersantap yang menyenangkan. Menurut Hagen, ini juga dapat bekerja melawan keinginan makanan.

Perasaan tersebut mungkin secara tidak sadar mendorong seseorang memikirkan makanan, seperti rasanya terlalu enak untuk dinikmati. Hagen mengutip contoh pola spiral emas berbasis deret Fibonacci.

Dalam kasus makanan, studi tersebut menegaskan orang cenderung mengasosiasikan makanan dengan daya tarik berbasis alam sebagai hal yang lebih baik untuk mereka. "Makanan yang tampak cantik artinya lebih banyak makanan alami atau makanan lebih sehat," kata penelitian tersebut seperti dilansir di laman Medical News Today, Rabu (18/11).

Dalam persamaan ini, respons bawah sadar kita terhadap keindahan makanan dapat mengesampingkan pengetahuan objektif bahwa nilai gizi bukan ciri yang terlihat. Hagen menyelidiki hipotesisnya dalam serangkaian eksperimen.

Eksperimen pertama melibatkan 803 peserta untuk menemukan gambar cantik dan jelek dari es krim sundae, burger, pizza, sandwich, lasagna, omelet, dan salad. Seperti yang diharapkan, para peserta menilai, makanan dengan bentuk yang cantik lebih sehat. Mereka tidak melihat rasa, kesegaran, dan ukuran porsi sebagai faktor yang mempengaruhi.

Dalam eksperimen lain, peserta menilai kesehatan dari roti panggang alpukat.
Peserta yang melihat gambar roti panggang alpukat yang cantik menilai roti tersebut lebih alami dan sehat.

Dalam eksperimen lain yang menguji efek bias rangsangan, Hagen menyajikan kepada 801 orang dua gambar identik tentang berbagai makanan yang bervariasi dalam tingkat kesehatan. Makanannya adalah mentega almond dan roti pisang, spageti marinara, dan kue mangkuk.

Untuk menguji pengaruh daya tarik terhadap perilaku pembelian, Hagen bertanya kepada 89 orang apakah mereka bersedia membayar untuk paprika yang cantik atau jelek. Sekali lagi, peserta lebih cenderung membeli makanan yang tampak lebih baik setelah menilai makanan itu lebih alami dan sehat.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA