Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

AS Perdana Setujui Alat Tes Cepat Covid-19 Dipakai di Rumah

Rabu 18 Nov 2020 18:44 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nur Aini

Ilustrasi Covid-19

Ilustrasi Covid-19

Foto: Pixabay
Hasil tes Covid-19 dengan usap hidung di AS bisa dilihat dalam 30 menit

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) mengeluarkan otorisasi penggunaan darurat pertama kali untuk tes cepat virus corona secara pribadi pada Selasa (17/11). Izin tersebut keluar akibat dari pembatasan kegiatan yang ditetapkan oleh negara bagian untuk menghentikan lonjakan kasus Covid-19.

"Kami terus menunjukkan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam menanggapi #COVID19," kata komisaris Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA), Stephen Hahn di Twitter.

Baca Juga

FDA menyetujui alat penguji pribadi untuk usia 14 tahun ke atas yang diduga dokter mengidap Covid-19. Tes memberikan hasil dalam 30 menit.

"FDA mengesahkan tes #COVID19 pertama yang sepenuhnya dilakukan sendiri & memberikan hasil di rumah. Ini merupakan kemajuan penting, menggarisbawahi komitmen kami untuk memperluas akses tes," kata Hahn.

Dikutip dari Dailysabah, FDA memberikan izin untuk tes usap hidung di rumah yang dikembangkan oleh Lucira Health. Pengguna mengumpulkan sampel dengan mengusap hidung, kemudian memasukkan sampel ke dalam botol kecil.

Botol tersebut dimasukkan ke dalam perangkat kecil untuk menguji sampel. Tampilan lampu di perangkat akan menunjukkan hasil pengguna dalam 30 menit atau kurang. Tes itu dirancang agar terjangkau dengan biaya kurang dari 50 dolar AS.

FDA sebelumnya telah menyetujui tes Covid-19 di rumah, memberi lampu hijau pada akhir April dan awal Mei untuk dua kit pengambilan sampel hidung dan satu kit pengumpulan sampel air liur. Namun, sampel dari kit tersebut harus dikirim ke laboratorium untuk diproses, alih-alih menunjukan hasil langsung di rumah.

Sementara tes Lucira memberikan hasil di tempat, ini masih bukan jenis tes antigen yang murah dan cepat. Padahal tes jenis ini oleh beberapa peneliti dinilai paling tepat digunakan untuk skrining populasi skala besar.

Menurut Universitas Johns Hopkins, AS telah mencatat 11.340.563 kasus virus corona dengan 248.429 kematian pada Selasa. Jumlah kematian dan infeksi di negara itu adalah yang terburuk di dunia. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA