Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

Disparitas Harga Pangan Masih Terjadi di Sejumlah Daerah

Rabu 18 Nov 2020 18:38 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Friska Yolandha

Pemerintah berupaya menekan disparitas harga melalui Gerai Maritim dengan memanfaatkan Tol Laut.

Pemerintah berupaya menekan disparitas harga melalui Gerai Maritim dengan memanfaatkan Tol Laut.

Foto: Humas Ditjen Hubla
Pemerintah berupaya menekan disparitas harga melalui Gerai Maritim.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyatakan, saat ini masih terdapat disparitas harga komoditas pangan yang cukup besar di sejumlah daerah. Khususnya di berbagai daerah terpencil.

Hal itu, kata dia, disebabkan tidak seimbangnya pasokan dan produksi sekaligus tingginya biaya logistik. Maka, Agus menegaskan, pemerintah tidak tinggal diam dan terus berupaya mengatasi disparitas harga pangan tersebut. Salah satu upayanya yakni melalui Gerai Maritim dengan memanfaatkan Tol Laut.

Gerai Maritim, jelasnya, merupakan kegiatan mendistribusikan barang, khususnya barang Kebutuhan pokok dan barang penting ke daerah Terdepan, Terpencil dan Tertinggal serta Perbatasan (3TP). Tujuannya menurunkan atau mengurangi disparitas harga. 

“Pemerintah memberi subsidi untuk ongkos angkutnya,” ujar dia dalam Jakarta Food Security Summit (JFSS), Rabu (18/11). 

Ia menambahkan, untuk mendukung peningkatan daya saing produk pangan, Kementerian Perdagangan (Kemendag) pun telah memiliki beberapa program jangka pendek dan menengah.  

Kebijakan jangka pendek di antaranya, kemitraan antara para pelaku usaha, Bangga Buatan Indonesia (BBI), dan pelatihan kepada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Lalu kebijakan jangka menengah meliputi kebijakan stabilisasi harga, kebijakan pengendalian impor dalam mendukung subsitusi impor, serta memfasilitasi akses terhadap pembiayaan.  

“Strategi lainnya yaitu pemanfaatan resi gudang. Ada pula pasar lelang komoditas,” kata Agus. 

Founder dan CEO Tokopedia William Tanuwijaya menambahkan, mayoritas petani di Indonesia berada di mata rantai paling bawah, sehingga menerima pendapatan kurang optimal. Hal tersebut disebabkan oleh kondisi geografis dan minimnya fasilitas infrastruktur di Tanah Air. 

Hanya saja, semua kendala tersebut bisa teratasi lewat penggunaan teknologi. “Khususnya digital, bisa menjadi solusi bagi para petani,” jelas dia pada kesempatan serupa.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA