Wednesday, 2 Ramadhan 1442 / 14 April 2021

Wednesday, 2 Ramadhan 1442 / 14 April 2021

Ini Menu Sarapan yang Baik dan Buruk Bagi Usus

Rabu 18 Nov 2020 05:15 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah / Red: Nora Azizah

Pilihan menu sarapan penting diperhatikan demi menjaga kesehatan usus (Foto: ilustrasi sarapan)

Pilihan menu sarapan penting diperhatikan demi menjaga kesehatan usus (Foto: ilustrasi sarapan)

Foto: Sheknows
Pilihan menu sarapan penting diperhatikan demi menjaga kesehatan usus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sarapan merupakan salah satu cara untuk menjaga kesehatan usus. Namun begitu, pilihan menu sarapan juga penting diperhatikan sebab ada makanan tertentu yang bisa memperburuk kesehatan usus.

Melansir laman Live Strong pada Selasa (17/11) berikut 4 menu sarapan terbaik untuk kesehatan usus.

 

Baca Juga

Yogurt

Segelas yogurt di pagi hari meningkatkan bakteri sehat khususnya Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Bakteri hidup alias probiotik ini dapat memberikan efek positif pada kesehatan kita, khususnya sistem pencernaan.

Namun hindari yogurt yang telah ditambahkan pemanis buatan seperti sakarin dan sukralosa. Sebuah studi Januari 2019 di Advances in Nutrition menemukan bahwa beberapa pengganti gula mengubah bakteri usus.

 

Oatmeal

Oatmeal adalah salah satu menu terbaik untuk sarapan yang berkontribusi pada kesehatan usus. Oat adalah makanan prebiotik, yang berarti membantu memberi makan probiotik, bakteri baik di usus kita.

Oat memiliki serat unik yang disebut beta-glukan, serat spesifik ini memiliki efek yang lebih berbeda pada komposisi mikroba di usus dibandingkan dengan serat lain.

Menurut Academy of Nutrition and Dietetic, sumber prebiotik lainnya termasuk pisang, bawang merah, bawang putih dan kacang-kacangan.

photo
Oatmeal - (Flickr)
Smoothie

Untuk membuat smoothie yang baik untuk usus Anda, gabungkan sebanyak mungkin makanan nabati seperti buah, sayuran, kacang-kacangan dan biji-bijian.

Salah satu studi yang diterbitkan di mSystems pada 2018 menemukan bahwa mengonsumsi 30 makanan nabati yang berbeda dalam seminggu dikaitkan dengan memiliki mikrobioma usus yang lebih sehat.

Saat meramu smoothie, hindari smoothie yang dikemas dengan bahan-bahan seperti jus, yogurt beku, dan susu manis karena gula biasanya sangat tinggi.

 

Telur

Baik atau buruknya telur untuk kesehatan usus sangat bergantung pada orangnya. Jika Anda berurusan dengan masalah usus seperti sindrom iritasi usus besar (BS) maka Anda harus mengurangi asupan telur.

Jika IBS Anda cenderung menyebabkan diare, telur dapat membantu. Tapi, jika mengalami efek sebaliknya seperti sembelit, telur justru bisa memperburuk keadaan.

 

Sementara itu, berikut tiga makanan sarapan terburuk untuk usus Anda

 

Bacon dan Sosis

Daging merah olahan tidak hanya menjadi masalah bagi jantung, tetapi juga memengaruhi usus. Sarapan sedikit dengan daging asap, sosis atau daging merah olahan lainnya dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal. Daging merah juga memiliki efek negatif pada mikrobiota usus. 

 

Donat

Menambahkan donat ke menu sarapan kerap dianggap menyehatkan. Padahal usus Anda mengatakan sebaliknya. Donat digoreng, artinya tinggi lemak. Mereka juga dibuat dengan biji-bijian olahan dan tambahan gula (sedikit atau tanpa serat).

Sebuah studi bulan April 2015 di Nature Communications menukar pola makan orang Afrika-Amerika yang secara tradisional makanan kebarat-baratan (tinggi lemak dan rendah serat) dengan orang Afrika Selatan yang mengonsumsi makanan pedesaan Afrika (tinggi serat dan rendah lemak).

Setelah hanya dua pekan mengonsumsi makanan yang berbeda, mereka yang menjalani diet tinggi lemak dan rendah serat mengalami peningkatan peradangan mukosa yang signifikan dan perubahan negatif pada mikrobiota, keduanya merupakan faktor risiko kanker.

 

Wafel dan Pancake

Wafel dan pancake secara tradisional dibuat dengan biji-bijian olahan seperti tepung gandum dan barley. Jenis biji-bijian ini tidak benar-benar bermanfaat bagi usus Anda, terutama jika dibandingkan dengan biji-bijian.

Sebuah uji klinis yang diterbitkan dalam American Journal of Clinical Nutrition pada Februari 2017 menemukan bahwa setelah enam minggu, mengganti biji-bijian dengan biji-bijian olahan menyebabkan peningkatan berat dan frekuensi tinja, serta efek positif sederhana pada mikrobiota usus.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA