Friday, 4 Ramadhan 1442 / 16 April 2021

Friday, 4 Ramadhan 1442 / 16 April 2021

Bergerak Untuk UMKM Yogyakarta Selama Pandemi

Selasa 17 Nov 2020 10:54 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Friska Yolandha

Logo Yuk Tukoni

Logo Yuk Tukoni

Foto: istimewa
Dari minim orderan, UMKM yang tergabung di Yuk Tukoni kini kebanjiran pesanan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pandemi covid-19 membuat tak sedikit UMKM yang kembang kempis untuk bertahan hidup. Yogyakarta, sebagai salah satu wilayah yang tak pernah mati untuk sektor food and beverage pun terpukul karena tak adanya kegiatan belajar-mengajar di universitas. Juga lesunya kunjungan wisatawan membuat keberlangsungan UMKM Jogja semakin terpuruk.

Kondisi ini dibaca oleh pria asal Jawa Barat, Revo Suladasha, untuk bisa bergerak bersama membantu para UMKM tetap bisa bertahan di tengah badai pandemi. Revo mengatakan dampak pandemi menguras habis sampai 80-90 persen keuntungan para UMKM Jogja. Ia pun tergerak untuk melakukan perubahan agar para UMKM ini bisa tetap bergerak.

Revo yang memang sudah lama menggeluti bidang F&B ini membuat Yuk Tukoni, sebuah platform jual beli makanan khas Yogya. Untuk bisa menjawab keinginan konsumen yang rata rata berada di wilayah luar DIY dan Jateng, Revo mengemas makanan hits juga produk UMKM dengan versi beku.

"Akhir April, terasa sekali semua UMKM khususnya di bidang F&B teriak. Nggak sedikit dari mereka nggak punya solusi bagaimana caranya tetap bertahan untuk jualan untuk menyambung hidupnya," ujar Revo kepada Republika.co.id, Senin (16/11).

Revo bersama Eri Kuncoro yang merupakan konsultan marketing membentuk Yuk Tukoni sebagai salah satu wadah untuk bisa memasarkan produk UMKM Yogya. Bermula dari kelompok kecil lingkup pertemanannya, hingga awal November ini 120 UMKM di bidang makanan sudah tergabung di Yuk Tukoni. Tak hanya Yogyakarta, Yuk Tukoni juga menggaet UMKM di wilayah Solo, Madiun dan Semarang.

"Akhir april kita coba bikin platformnya. Dengan memang kami ambil siasat untuk mengajak beberapa makanan khas Yogya yang hits seperti Mie Ayam Bu Tumini dan Mangut Lele Mbah Marto," ujar Revo.

Di awal Mei, Revo mengemas 10 brand lokal dan mengemasnya menggunakan vacum dan pembekuan di chiller. "Awalnya bener-bener gotong-royong, kita beli alat vakum yang murah murah, chiller yang murah, yang penting ini bisa gerak dulu," tambah Revo.

Ia pun tak kehabisan bantuan. Revo mengatakan tak sedikit dari lingkungan pertemannanya yang kemudian juga tergerak untuk bisa membantu para UMKM ini. Ia mengatakan setelah bergerak dua bulan, sedikit demi sedikit ada bantuan freezer yang layak bahkan warehouse sebagai tempat pengemasan.

Memasuki Agustus, lonjakan orderan terjadi. Revo menjelaskan sudah ada 19,1 juta orang yang mengakses aplikasi Yuk Tukoni dengan volume penjualan mencapai Rp 1,08 miliar.

Namun capaian ini bukan tanpa tantangan. Pria penerima penghargaan kategori 'Pejuang Tanpa Pamrih di Masa Pandemi Covid-19' oleh Astra Satu Indonesia ini menceritakan awal awal pemesanan para produsen kewalahan.

"Kita sehari bisa masuk order sampai 2.000 pak mie ayam Bu Tumini. Sayangnya, di awal memang benar benar kewalahan. Sehari hanya bisa memproduksi 100 pak. Terpaksa kami membuat pre order untuk pesanan ini," ujar Revo.

Tak hanya itu, Mangut Lele Mbah Marto juga kebanjiran orderan sampai 1.000 pesanan per hari. Hal ini sempat membuat para produsen angkat tangan. "Wis mboten sanggup, mas," kenang Revo. 

Namun, ternyata hal ini menjadi tantangan bagi Revo.

Ia menilai saat ini tugasnya bukan hanya membuat platform saja. Tetapi bagaimana menyiapkan mental dan mendampingi para UMKM ini untuk siap keluar dari zona nyaman. "Ternyata tugas saya nggak bisa sekadar untuk mengemas dan memasarkan. Ada tugas moral yaitu meedukasi dan mendampingi para UMKM ini agar tidak patah arang," beber Revo.

Salah satu produk, Sempol Saripah, yang merupakan usaha rumahan salah satu contohnya. Revo menceritakan pemilik Sempol Saripah sempat tak percaya diri untuk memasarkan dagangannya. Apalagi di awal, belum banyak yang mengetahui produk tersebut. Revo butuh waktu untuk bisa meyakinkan si produsen untuk bisa keluar dari zona nyaman.

"Sekarang alhamdulillah sudah mulai naik. Mereka bisa melayani pemesanan sampai ratusan per hari. Cerita yang sama juga terjadi di Wedang Uwuh kemasan. Sehari dari cuma 10 pesanan, sekarang bisa sampai 30-50 pesanan per hari," ujar Revo.

Dari 19 April hingga 9 November 2020, Revo mencatat sudah 18.500 produk yang ludes terjual. Ia juga menceritakan pernah satu kali pemesanan mencapai Rp 4,7 juta per orang.

Pengiriman produk pun juga melampaui daerah Yogyakarta, bahkan mencapai ke Bandung dan Jakarta. Ini menunjukkan, aksi kolektif sangat diperlukan agar para pegiat UMKM bisa melewati masa krisis ini bersama-sama.

Ia pun merasa ini tak hanya akan memberikan bantuan sementara di kala covid-19 ini saja. Ia melihat apa yang dia dan tim lakukan menjadi tren baru bagi dunia kuliner saat ini. Pandemi Covid-19 menurutnya membuat banyak orang dipaksa berfikir untuk out of the box.

"Ini bukan cuman untuk cuan saja. Ternyata, kondisi krisis bisa dilewati dengan bersama sama untuk bertahan. Gotong-royong itu adalah jalan yang rahmat," ujar Revo.

Ke depan, Revo mengatakan Yuk Tukoni akan menjadi salah satu platform dengan cakupan yang lebih luas. Ia berharap bisa merealisasikan untuk membuat offline store agar masyarakat bisa semakin leluasa untuk mengakses produk UMKM.

"Selain memudahkan para pelanggan, ini juga sebagai salah satu wadah bagi UMKM untuk bisa memasarkan produknya lebih luas," ujar Revo.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA