Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

Turki Berminat Produksi Vaksin Covid-19 Rusia

Kamis 12 Nov 2020 01:25 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Seorang pekerja medis Rusia menampilkan vaksin uji coba terhadap COVID-19 dalam fase tes pasca pendaftaran di rumah sakit rawat jalan nomor 68 di Moskow, Rusia, 17 September 2020. Rusia mendaftarkan vaksin baru yang disebut

Seorang pekerja medis Rusia menampilkan vaksin uji coba terhadap COVID-19 dalam fase tes pasca pendaftaran di rumah sakit rawat jalan nomor 68 di Moskow, Rusia, 17 September 2020. Rusia mendaftarkan vaksin baru yang disebut

Foto: EPA-EFE/SERGEI ILNITSKY
Rusia mengeklaim vaksin Covid-19 buatannya efektif 90 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Turki berminat untuk memproduksi vaksin Covid-19 pertama Rusia, Sputnik V, di fasilitas domestik mereka. Sebelumnya, Moskow telah mengeklaim bahwa vaksin yang dikembangkannya memiliki keefektifan 90 persen.

"Kepala kementerian kesehatan Turki menyatakan minatnya untuk mengatur produksi vaksin Sputnik V di fasilitas produsen farmasi Turki, setelah studi toksikologi telah dilakukan, sebagaimana ditetapkan oleh undang-undang setempat," kata Kementerian Kesehatan Rusia dalam sebuah pernyataan pada Rabu (11/11).

Menteri Kesehatan Rusia Mikhail Murashko disebut telah meyakinkan Menteri Kesehatan Turki Fahrettin Koca tentang kesiapan untuk mengadakan tes semacam itu. Kementerian Kesehatan Turki masih menolak menguatkan klaim tersebut.

Baca Juga

Namun, Koca telah mengonfirmasi bahwa dia memang telah melakukan pembicaraan via telepon dengan Murashko. “Kami bertukar pandangan tentang masalah di bidang kesehatan tempat kami bekerja sama, yaitu upaya vaksin Covid-19 dan operasi internasional yang kami ikuti,” kata Koca melalui akun Twitter pribadinya pada Selasa (10/11).

Rusia sudah menguji dua vaksin untuk melawan virus korona dan hampir mendaftarkan yang ketiga. Vaksin Sputnik V telah diluncurkan untuk penggunaan domestik meskipun uji coba tahap akhir belum selesai.

Sementara itu, Turki telah melaporkan hampir 400 ribu kasus Covid-19. Wabah telah menyebabkan lebih dari 11 ribu warga di negara tersebut meninggal. Pada Juli lalu Pemerintah Turki mengubah metode penghitungan kasus hariannya, yakni dengan hanya mendaftarkan pasien bergejala. Para kritikus menilai, langkah itu bertujuan menyembunyikan skala sebenarnya dari penyebaran Covid-19 di negara tersebut. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA