Saturday, 3 Zulhijjah 1443 / 02 July 2022

Ledakan Guncang Jeddah Arab Saudi, 4 Orang Terluka

Rabu 11 Nov 2020 20:52 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Bendera Arab Saudi.

Bendera Arab Saudi.

Foto: Eurosport
Acara yang dihadiri konsulat termasuk dari Prancis jadi sasaran serangan ledakan

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Sebuah ledakan terjadi di sebuah pemakaman kota Jeddah, Arab Saudi, pada Rabu (11/11). Beberapa orang terluka dalam kejadian tersebut.

Ledakan itu terjadi ketika sejumlah diplomat Eropa menggelar acara peringatan tahunan berakhirnya Perang Dunia I di sebuah memorial di pemakaman tersebut. “Upacara tahunan untuk memperingati berakhirnya Perang Dunia I di pemakaman non-Muslim di Jeddah, dihadiri oleh beberapa konsulat, termasuk dari Prancis, menjadi sasaran serangan IED (improvised explosive device/alat peledak improvisasi) pagi ini, yang melukai beberapa orang," Kata kementerian Luar Negeri Prancis dalam sebuah pernyataan, dikutip laman Aljazirah.

Baca Juga

Prancis mengutuk keras serangan tersebut. Ia mendesak warganya yang tinggal di Saudi untuk meningkatkan kewaspadaan. "Secara khusus, lakukan kebijaksanaan dan jauhi semua pertemuan dan berhati-hatilah saat bergerak," kata Kementerian Luar Negeri Prancis.

Pejabat Saudi belum merilis komentar atau keterangan terkait serangan tersebut. Media pemerintah pun belum melaporkan tentang insiden itu. Ledakan di Jeddah terjadi saat Prancis sedang berusaha mencairkan kembali hubungan dunia Muslim.

Presiden Prancis Emmanuel Macron diketahui telah menjadi sasaran kritik karena bertekad mempertahankan hak di negaranya untuk membuat serta menerbitkan karikatur Nabi Muhammad. Tak hanya itu, Macron sempat membuat pernyataan dengan menyebut Islam adalah agama yang mengalami krisis di seluruh dunia.

Pernyataan itu terlontar saat dia menghadiri upacara peringatan Samuel Paty, seorang guru di Paris yang dipenggal oleh muridnya pada 16 Oktober lalu. Pemenggalan itu terjadi setelah Paty menunjukkan karikatur Nabi Muhammad saat mengajar kelas kebebasan berbicara.

Sikap dan pernyataan Macron dianggap menggelorakan sentimen anti-Islam. Demonstrasi dan seruan boikot terhadap produk Prancis menggema di beberapa negara dengan mayoritas penduduk Muslim. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA