Rabu 11 Nov 2020 11:30 WIB

Lumbung Pangan Jatim Diklaim Mampu Kontrol Inflasi Daerah

Lumbung pangan Jatim sedang dikembangkan guna menjaga stabilitas komoditas strategis

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Hiru Muhammad
Petani memanen padi di salah satu kawasan lumbung padi di Ngawi, Jawa Timur, Jumat (21/2/2020).
Foto: Antara/Siswowidodo
Petani memanen padi di salah satu kawasan lumbung padi di Ngawi, Jawa Timur, Jumat (21/2/2020).

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA--Kepala Biro Administrasi Perekonomian Setdaprov Jatim Tiat Sutiarti Suwardi mengklaim, Lumbung Pangan Jatim yang digelar mulai April 2020 mampu menjadi kontrol inflasi daerah. Termasuk saat hari-hari besar keagamaan seperti Idul Fitri. Dimana berdasarkan data Badan Pusat Statistika (BPS) Jatim, inflasi di wilayah setempat bisa terkontrol dengan baik. 

Tiat mengatakan, layanan belanja kebutuhan pokok gratis ongkos kirim yang dijalankan Lumbung Pangan Jatim telah menjangkau seluruh kabupaten/ kota di wilayah setempat. Surabaya dipilih sebagai pusat kegiatan Lumbung Pangan Jatim karena daerah tersebut sebagai wilayah dengan bobot inflasi terbesar bagi perhitungan inflasi Jatim maupun perhitungan inflasi nasional. 

“Stabilitas harga komoditas strategis harus dijaga, khususnya pada masa pandemi Covid-19. Karena komoditas strategis berkontribusi terhadap garis kemiskinan. Jika harga naik maka garis kemiskinan naik. Program ini Alhamdulilllah telah memberikan kontribusi besar dalam kontrol inflasi daerah,” kata Tiat di Surabaya, Rabu (11/11).

Tiat menjelaskan berbagai kebutuhan pokok yang disesiakan di Lumbung Pangan Jatim dan pengaruhnya terhadap garis kemiskinan. Beras contohnya, komoditas ini berkontribusi 25,97 persen terhadap garis kemiskinan desa dan 20,59 persen terhadap garis kemiskinan kota. Kemudian telur ayam ras yang berkontribusi 3,53 persen terhadap garis kemiskinan desa dan 4,26 persen terhadap garis kemiskinan kota.

Kemudian gula yang berkontribusi 2,89 persen terhadap garis kemiskinan desa dan 2,06 persen terhadap garis kemiskinan kota. Selanjutnya daging ayam ras berkontribusi 2,28 persen terhadap garis kemiskinan desa dan 3,83 persen terhadap garis kemiskinan kota. Ada juga mie instan yang berkontribusi 2,16 persen terhadap garis kemiskinan desa dan 2,40 persen terhadap garis kemiskinan kota.

“Semua komoditas tersebut dijual di Lumbung Pangan Jatim dengan harga di bawah harga pasar dan tentunya gratis ongkir, ini yang menjadi kontrol inflasi. Dimana masyarakat tak khawatir dengan suplai komoditas, dan tidak khawatir karena harganya justru di bawah harga pasar,” ujar Tiat. 

Tiat menyebut, Lumbung Pangan Jatim merupakan bagian dari sistem logistik daerah yang sedang dikembangkan untuk menjaga stabilitas harga komoditas strategis di Jawa Timur. Dengan mengoptimalkan teknologi informasi, Lumbung Pangan Jatim diharap mampu menjadi mediator antara produsen yang pada saat pandemi terpuruk karena oversupply dengan konsumen yang membutuhkan kebutuhan pokok dengan harga murah."Serta memutar roda perekonomian logistik ojek online dan kantor pos, yang sempat terdampak pemberlakuan PSBB," kata dia

Lumbung Pangan Jatim semula direncanakan akan berakhir pada Desember 2020. Tiat mengatakan, saat ini pihak terkait tengah melakukan pbahasan dan dievaluasi apakah nantinya bisa diperpanjang atau tidak.

“Kita masih evaluasi, dan menunggu arahan Gubernur (Khofifah). Namun kita akan memulai untuk menyiapkan sistem logistik daerah. Dengan gubernur yang telah menugaskan PT JGU untuk menjadi intermediatory komoditas strategis, dan dimulai dengan komoditas telur dan daging ayam,” kata Tiat.

Ketua Pelaksana Lumbung Pangan Jatim Mirza Muttaqien mengatakan, sejak dibukanya Lumbung Pangan Jatim hingga saat ini, total transaksinya mencapai Rp 20,3 miliar. “Total nilai penjualan via daring Rp 9,5 miliar, dan penjualan di outlet di Jatim Expo mencapai Rp 10,7 miliar,” kata Mirza.

Adapun total volume pemesanan sebanyak 137.172 kali. Terdiri dari volume pemesanan outlet di Jatim Expo sebanyak 71.440 kali, dan volume pemesanan via daring sebesar 65.732 kali. “Komoditas yang paling laku adalah gula pasir, minyak goreng, mie instan, telur, beras medium, beras premium, ayam frozen, bawang putih dan ikan fillet dori,” ujar Mirza.

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement