Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Pandemi Covid Dorong Layanan Digital Asia Tenggara Melonjak

Rabu 11 Nov 2020 10:28 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya

Transaksi online (Ilustrasi)

Transaksi online (Ilustrasi)

Volume transaksi online di kawasan Asia Tenggara mencapai 100 miliar dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA – Asia Tenggara mencatatkan lonjakan penggunaan layanan digital seperti e-commerce, jasa pengiriman makanan dan pembayaran online karena pandemi virus corona (Covid-19). Pertumbuhan ini dicatat dalam laporan baru dari Google, Temasek Holdings dan Bain & Company.

Sebanyak 40 juta orang di enam negara di seluruh kawasan mulai masuk dalam layanan online pada 2020, yaitu Filipina, Vietnam, Indonesia, Singapura, Malaysia dan Thailand. Tambahan ini mendorong total pengguna internet di negara-negara Asia Tenggara menjadi 400 juta atau hampir 70 persen dari populasi.

Baca Juga

Seperti dilansir di CNBC, Selasa (10/11), sebagian besar pengguna baru berasal dari daerah non metropolitan di Malaysia, Indonesia dan Filipina.

Pertumbuhan ekonomi global menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tahun ini. Kebijakan pembatasan aktivitas sosial dan ekonomi hingga lockdown telah memengaruhi bisnis dan pekerjaan di seluruh dunia.

Tapi, laporan ini memperkirakan, sektor internet Asia Tenggara dapat mengalami pertumbuhan yang kuat dan mencapai 100 miliar dolar AS dalam volume transaksi atau gross merchandize value (GMV) pada 2020. E-commerce mencatat pertumbuhan 63 persen, sementara segmen perjalanan online menurun 58 persen.

GMV merupakan metrik yang paling umum digunakan dalam e-commerce untuk mengukur total nilai dolar dari barang yang dijual selama periode waktu tertentu.

Secara keseluruhan, sektor internet di kawasan ini tetap berada di jalur pertumbuhan positif, melampaui 300 miliar dolar AS dalam GMV pada 2025. Prediksi tersebut pertama kali dibuat pada tahun lalu, sebelum pandemi Covid-19.

Temuan laporan juga menyebutkan, layanan keuangan digital mendapatkan momentum besar karena semakin banyak bisnis kecil dan menengah yang menerima pembayaran online. Pembayaran digital akan tumbuh dari 600 miliar dolar AS pada 2019 menjadi 620 miliar dolar AS di tahun ini seiring dengan penurunan rata-rata transaksi uang tunai.

Pada 2025, pembayaran digital bahkan dapat mencapai 1,2 triliun dolar AS. Pembayaran digital yang dimaksudkan dalam laporan tersebut termasuk dompet seluler, transfer dari akun ke akun dan kartu kredit maupun debit.

Sektor teknologi kesehatan dan pendidikan mendapat dorongan dari pandemi karena banyak orang beralih ke konsultasi kesehatan daring, sementara sekolah beralih ke pembelajaran jarak jauh. Investasi ke sektor-sektor tersebut pun tumbuh.

Di sisi lain, sektor perjalanan dan transportasi online terpukul paling parah. Pandemi membuat perjalanan internasional terhenti dan banyak orang mulai bekerja dari rumah. Beberapa orang juga menjadi khawatir untuk naik transportasi umum. Tapi, laporan menyebutkan, perjalanan online akan pulih menjadi 60 miliar dolar AS pada 2025.

Investasi teknologi regional naik 17 persen dari sisi jumlah antara paruh pertama 2019 dengan paruh pertama 2020. Tapi, total nilai kesepakatannya turun dari 7,7 miliar dolar AS menjadi 6,3 miliar dolar AS.

Investor memasukkan lebih banyak uang ke dalam ruang teknologi keuangan. Nilai kesepakatan pada sektor ini naik dari 475 juta dolar AS menjadi 835 juta dolar AS pada semester pertama 2020.

Wakil presiden untuk Asia Tenggara di Google Stephanie Davis menjelaskan, masyarakat telah sangat terpengaruh virus corona global. Tapi, ketahanan dalam ekonomi digital Asia Tenggara masih kuat.

Davis menjelaskan, Covid-19 yang telah menginfeksi lebih dari 50 juta orang di seluruh dunia mendorong banyak pengambilan keputusan bagi konsumen di seluruh Asia Tenggara. Ia menambahkan, ada bukti yang menggembirakan bahwa peralihan ke konsumsi digital akan tetap ada.  

Saat pihaknya bertanya kepada konsumen mengenai alasan menggunakan e-commerce, Davis menuturkan, banyak di antara mereka menjawab, untuk menghindari potensi paparan virus corona. "Tapi, yang paling penting, banyak juga yang menyebutkan alasannya adalah karena efisien dan mereka merasa terbantu," katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA