Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Sederet Pemimpin Negara Besar Bungkam Saat Joe Biden Menang

Selasa 10 Nov 2020 13:26 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nur Aini

 Presiden Vladimir Putin belum mengucapkan selamat atas kemenangan Joe Biden dalam pilpres AS

Presiden Vladimir Putin belum mengucapkan selamat atas kemenangan Joe Biden dalam pilpres AS

Foto: AP/Alexei Druzhinin/Pool Sputnik Kremlin
Sejumlah pemimpin besar dunia belum mengakui kemenangan Joe Biden dalam Pilpres AS

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Ucapan selamat telah berdatangan untuk proyeksi kemenangan presiden dan wakil presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Kamala Harris. Sederet nama pemimpin dunia memberikan ucapan atas kemenangan kandidat dari Partai Demokrat tersebut. 

Namun, tak semua pemimpin negara nampaknya memberikan ucapan atas terpilihnya Biden sebagai presiden ke-46 Negeri Paman Sam, di mana ia akan menggantikan Presiden AS Donald Trump yang menjadi kandidat pejawat dalam pemilihan tahun ini. Ada sejumlah nama besar yang kali ini memiliki sikap berbeda, dengan memilih untuk bersikap diam atau belum mengucapkan selamat, serta ucapan apapun. 

Baca Juga

Dilansir CNN, di antara tokoh yang terlihat belum memberi ucapan selamat kepada Biden, maupun Harris adalah pemimpin negara yang selama ini disenangi oleh Trump. Keheningan yang terjadi dinilai mengartikan banyak hal mengenai hubungan yang mereka antisipasi dalam pemerintahan baru AS. 

Berikut di antara nama pemimpin negara yang belum memberi ucapan selamat kepada Biden maupun Harris : 

1. Presiden Rusia Vladimir Putin

Pada 2016, saat Trump terpilih dalam pemilihan presiden AS, Putin memberikan ucapan selamat hanya beberapa jam setelah pengumuman resmi dirilis. Namun, kali ini, ia belum menyampaikan pesan yang sama kepada Biden. 

Menurut juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, Moskow menunggu hasil resmi pemilihan presiden AS terlebih dahulu. Selama empat tahun terakhir, hubungan antara AS dan Rusia dinilai berada dalam kondisi yang baik, di mana ini mungkin tidak dapat diharapkan dari Biden. 

Biden akan menandai perubahan langkah signifikan bagi Rusia, yang telah memiliki kebebasan selama beberapa tahun sekarang, termasuk dari akhir tahun masa jabatan mantan presiden Barack Obama. Ia mungkin akan bekerja keras dengan mitra dan sekutu untuk mencegah hal-hal yang direncanakan Rusia, salah satunya peran dalam perang saudara di Suriah. 

Biden telah menyebut Rusia sebagai ancaman utama bagi keamanan national AS pada akhir Oktober lalu. Juru bicara Kremlin Peskov menanggapi dengan mengatakan bahwa Rusia tidak setuju dengan pernyataan Biden, dan retorika semacam itu memperkuat kebencian terhadap Federasi Rusia.

2. Presiden China Xi Jinping

Meski China dan AS memiliki hubungan yang tegang, bahkan dengan retorika kasar yang dilontarkan Trump, ucapan selamat dalam pemilihan 2016 tidak lupa disampaikan oleh Presiden China Xi Jinping. Saat itu, Xi yang menyampaikan selamat kapada Trump menyerukan agar hubungan dua negara bisa lebih sehat dan stabil agar dapat bergerak maju. 

Selama masa kepemimpinan Trump dalam empat tahun terakhir, hubungan AS dan China memburuk, dengan perpecahan mencolok atas perdagangan, teknologi, hak asasi manusia, tuduhan ekspansionisme China. Trump juga pada awal tahun ini menyalahkan pandemi Covid-19 terjadi karena Negeri Tirai Bambu.

Meski demikian dengan latar belakang ini, Xi belum menyambut terpilihnya Biden. Pemerintah China pada Senin (9/11) nampaknya masih menghindari pertanyaan kapan akan memberi selamat kepada Biden, di mana juru bicara Kementerian Luar Negeri hanya mengatakan bahwa China akan bertindak sesuai dengan praktik internasional.

Biden telah menyombongkan kemampuan untuk menghadapi China. Beijing mungkin merasa tidak berkewajiban untuk berkompromi dengan AS di bawah pemerintahan baru, terutama karena risiko tindakan tak terduga jauh lebih rendah. 

"Meskipun Biden akan bersikap keras terhadap China dan akan bekerja dengan mitra dan sekutu, namun ia mungkin akan bekerja dengan China di area kedua negara memiliki kepentingan bersama, seperti masalah perubahan iklim atau Korea Utara,” ujar Karin Von Hippel, mantan penasihat senior non-politik di Departemen Luar Negeri AS, sekaligus direktur jenderal Royal United services Institute.

3. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

Trump memuji Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan atas penanganannya dalam upaya kudeta yang gagal di negara itu, meskipun ada tindakan keras besar-besaran terhadap tokoh-tokoh yang diduga sebagai oposisi. Sebagai Presiden AS, Trump mengumandangkan kemenangan referendum yang kontroversial untuk Erdogan yang membuat dirinya mendapatkan kekuasaan yang luas dan tidak terkendali atas Turki.

Singkatnya, dengan Trump menjabat, Erdogan sebagian besar telah diberikan hak untuk melakukan apa yang diinginkan. Itu akan menjadi cerita yang sangat berbeda dengan Biden, yang belum diakui oleh Erdogan sebagai presiden terpilih AS.

Berbicara tahun lalu di episode khusus "The Weekly" The New York Times, Biden mengaku memiliki kekhawatiran atas Turki. Ia akan mengambil pendekatan yang sangat berbeda" untuk hubungan dengan negara tersebut, termasuk dengan rencana untuk mendukung kepemimpinan oposisi dan Kurdi.

Mundurnya Trump dari wilayah tersebut - termasuk penarikan tiba-tiba dari Suriah yang membuat sekutu anti-ISIS Kurdi Suriah terpapar pada kemajuan Turki dinilai membuat Erdogan semakin berani. Pemimpin Turki sejak itu mempertaruhkan kemarahan aliansi NATO dengan membeli senjata Rusia, dan mendukung serangan di Timur Tengah.

Biden mengatakan Erdogan harus membayar tindakan itu, termasuk apakah AS akan terus menjual senjata kepadanya.

4. Presiden Brasil Jair Bolsonaro

Bolsonaro sering mendapat julukan sebagai "Trump of the Tropics" karena strategi keduanya yang sama tentang politik populis. Ia menjadi salah satu pemimpin negara yang memilih diam atas kekalahan Trump.

Bolsonaro dan anak-anaknya, seperti halnya Trump, memainkan peran aktif dalam politik  dan berharap kemenangan Trump pemilihan tahun ini.  Putranya, Anggota Kongres Eduardo Bolsonaro, yang mengenakan topi "Trump 2020" dalam perjalanan ke Washington sebagai utusan sang ayah juga sempat mempertanyakan mengenai perolehan suara Biden dan integritas pemilu AS melalui jejaring sosial Twitter akhir pekan lalu.

Seperti Trump, Bolsonaro telah berkampanye dan menjalankan polarisasi, memicu kontroversi dengan membuat pernyataan bernada misoginis dan rasis. Ia juga berulang kali meremehkan pandemi Covid-19, bahkan ketika Brasil menjadi negara dengan kasus wabah terbesar di dunia.

Dengan kepergian Trump, Bolsonaro kehilangan sekutu diplomatik. Ia juga mendapati dirinya menghadapi presiden baru AS yang nampaknya memiliki fokus baru terkait hak asasi manusia dan lingkungan.

"Akankah ini menjadi pertanda awal dari berakhirnya pemimpin populis lainnya? Salah satu alasan mengapa hal itu mungkin terjadi adalah karena begitu banyak dari pemimpin populis seperti Bolsonaro pada khususnya menyangkal tentang pandemi dan mereka benar-benar menunjukkan kepada rakyat mereka sendiri, dalam banyak hal seperti Trump, bahwa mereka sebenarnya tidak memiliki kepedulian,” kata Von Hippel.

5. Presiden Meksiko Andrés Manuel López Obrador 

Obrador membuat pernyataan hati-hati tentang pemilihan presiden AS, di mana ia tidak menyebut Biden sebagai pemenang. Sebaliknya, ia mengatakan perlu menunggu hingga proses hukum yang sedang berjalan terkait penghitungan suara selesai. 

"Kami akan menunggu semua masalah hukum diselesaikan. Kami tidak ingin sembrono dan ingin menghormati penentuan nasib sendiri rakyat dan hak-hak negara mereka,” ujar Obrador dalam siaran di televisi pemerintah akhir pekan lalu.

Obrador telah menjalin hubungan dekat dengan Trump selama beberapa tahun terakhir, bahkan dalam menghadapi perundungan ekonomi dan retorika rasis dari AS. Keduanya dinilai bersifat populis yang telah membangun merek politik di atas kultus kepribadian.

Keengganan Obrador untuk memberi selamat kepada Biden mungkin disebabkan oleh hal tersebut. Langkah tersebut juga bisa dimaknai sebagai kelanjutan dari tradisi politik luar negeri yang secara aktif menghindari mengomentari urusan negara lain.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA