Selasa 10 Nov 2020 12:10 WIB

Bank DKI Tetap Catatkan Pertumbuhan Kinerja Positif

Bank DKI mengalami pertumbuhan sebesar Rp 32,84 triliun per September 2020

Di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, PT Bank DKI tetap dapat mencatatkan pertumbuhan kinerja positif. Per September 2020, total Aset Bank DKI tercatat sebesar Rp 56,68 triliun, tumbuh 12,86 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Demikian disampaikan Direktur Kredit UMK dan Usaha Syariah Bank DKI, Babay Parid Wazdi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (9/11).
Foto: istimewa
Di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, PT Bank DKI tetap dapat mencatatkan pertumbuhan kinerja positif. Per September 2020, total Aset Bank DKI tercatat sebesar Rp 56,68 triliun, tumbuh 12,86 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Demikian disampaikan Direktur Kredit UMK dan Usaha Syariah Bank DKI, Babay Parid Wazdi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (9/11).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, PT Bank DKI tetap dapat mencatatkan pertumbuhan kinerja positif. Per September 2020, total Aset Bank DKI tercatat sebesar Rp 56,68 triliun, tumbuh 12,86 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Demikian disampaikan Direktur Kredit UMK dan Usaha Syariah Bank DKI, Babay Parid Wazdi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (9/11).

Babay Parid yang saat ini merangkap sebagai Direktur Keuangan Bank DKI mengatakan, selain aset, Dana Pihak Ketiga Bank DKI per September 2020 juga tercatat mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 13,44 persen dari semula Rp 38,71 triliun per September 2019 menjadi sebesar Rp 43,91 triliun per September 2020. Bank DKI, terus berupaya untuk meningkatkan dana retail dengan mendorong pemanfaatan aplikasi JakOne Mobile. Dengan JakOne Mobile, pembukaan deposito and tabungan dapat dilakukan tanpa harus mengunjungi kantor layanan Bank DKI. Selain itu, JakOne Mobile juga dapat dipergunakan untuk melakukan pembayaran pajak dan retribusi  serta berbagai tagihan sehari-hari.

Dari sisi kredit, Bank DKI juga mengalami pertumbuhan sebesar Rp 32,84 triliun per September 2020 atau meningkat 6,2 persen  dibandingkan periode September 2019 sebesar Rp 30,93 triliun. Sejumlah faktor pendorong pertumbuhan kredit adalah kredit mikro yang tumbuh hingga 8,0 persen Rp 1,07 triliun per September 2019 menjadi Rp 1,16 triliun per September 2020. Pertumbuhan tersebut didorong oleh upaya Bank DKI dalam melakukan penyaluran kredit Monas Pemula dan Monas 25 Jakpreneur kepada debitur UMKM binaan JakPreneur. "Untuk melayani potensi pasar mikro yang masih terbuka luas, kami juga mengembangkan layanan digital e-form mikro loan. Melalui e-form mikro loan, pengajuan kredit mikro dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja", tambah Babay Parid.

Babay Parid menambahkan, kredit konsumer juga mengalami pertumbuhan sebesar 9,9 persen menjadi Rp 15,45 triliun per September 2020 dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 14,17 triliun. Hal ini didorong oleh berbagai upaya Bank DKI untuk meningkatkan kemudahan melalui layanan digital e-Form Consumer Loan Bank DKI. Kredit komersial dan korporasi juga tercatat sebesar Rp 15,83 triliun per September 2020 atau tumbuh 5,4 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 15,02 triliun. Alhasil, kualitas kredit tetap terjaga dengan baik yang ditandai dengan rasio NPL Gross sebesar 3,49 persen dan NPL Net sebesar 0,73 persen per September 2020.

Kondisi Pandemi Covid-19 yang masih berlangung hingga saat ini turut berpengaruh terhadap pencapaian laba bersih Bank DKI. Sampai dengan September 2020, laba bersih Bank DKI tercatat sebesar Rp 401,2 miliar menurun dibandingkan dengan September 2019 sebesar Rp 584 miliar. Hal tersebut dipengaruhi oleh peningkatan beban pencadangan instrumen keuangan hingga September 2020. Seiring dengan adanya implementasi PSAK 71 yang bertujuan untuk menjaga kualitas aset serta mengantisipasi potensi ketidakpastian ekonomi ke depan. Per September 2020, rasio coverage PT Bank DKI berada di kisaran 118,24 persen.

Terakhir, Babay Parid menegaskan bahwa di tengah kondisi perekonomian yang belum pasti akibat pandemi Covid-19, kami (Bank DKI) terus mengambil langkah yang diperlukan untuk tetap menjalankan fungsi intermediasi dengan baik, serta penerapan prinsip kehati-hatian dan prudential banking.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement