Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Festival Diwali di Sejumlah Kota India akan Sepi Petasan

Selasa 10 Nov 2020 02:40 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam / Red: Nashih Nashrullah

Festival Diwali di sejumlah Kota India dibatasi dari perayaan petasan Bendera India (Ilustrasi).

Festival Diwali di sejumlah Kota India dibatasi dari perayaan petasan Bendera India (Ilustrasi).

Foto: IST
Festival Diwali di sejumlah Kota India dibatasi dari perayaan petasan

REPUBLIKA.CO.ID, NEWDELHI— Pengadilan lingkungan India telah memerintahkan pelarangan petasan selama festival Diwali di kota-kota yang mengalami kualitas udara yang sangat buruk. Udara yang buruk bahkan juga diduga berhubungan dengan lonjakan virus corona. 

Larangan ini dikeluarkan Pengadilan India mengatakan pada Senin (9/11) menjelang perayaan Diwali pada Sabtu nanti. 

Hal ini karena biasanya jutaan petasan dinyalakan selama Diwali, Festival Cahaya Hindu, tetapi praktik tersebut disalahkan karena akan memperburuk polusi udara. Polusi berdampak terutama di India utara yang mengalami kabut asap parah setiap musim dingin. 

Baca Juga

Pengadilan beralasan polusi yang disebabkan oleh kembang api adalah risiko yang memperburuk kehidupan dan kesehatan. Larangan umum di semua kota dengan polusi udara yang tinggi ini akan berlangsung hingga 30 November. 

Sekretaris Jenderal (Sekjen) kehormatan Asosiasi Medis India, RV Asokan yang juga mewakili 350 ribu dokter mengatakan bahwa polusi udara membuat orang lebih rentan terhadap infeksi virus corona. 

"Partikel PM2.5 memecahkan penghalang saluran hidung, melemahkan lapisan dalam paru-paru, memfasilitasi penyebaran infeksi virus corona," kata Asokan dilansir dari Aljazirah, Senin (9/11). 

Indeks kualitas udara (AQI) Delhi secara keseluruhan, yang mencakup konsentrasi partikel PM2,5 serta polutan yang lebih besar, telah bertahan di atas 400, dalam skala nol hingga 500, selama lima hari berturut-turut menurut data pemerintah.

Sementara partikel kecil PM2.5 dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular dan pernapasan, termasuk kanker paru-paru, dan menimbulkan risiko khusus bagi orang dengan Covid-19. 

Ibu kota New Delhi dan negara bagian Rajasthan, Haryana, Maharashtra, dan Benggala Barat telah menghentikan atau membatasi penjualan dan penggunaan petasan. 

New Delhi terjebak dalam badai polusi yang sempurna karena posisinya di mangkuk dataran, pembakaran tunggul tanaman di negara bagian di sekitar kota, dan industrinya yang mengabaikan norma-norma polusi. 

Menanggapi larangan ini, produsen petasan menuntut agar pemerintah membayar mereka kompensasi atas larangan tersebut. Distrik selatan Sivakasi, yang memasok sekitar 90 persen petasan India dan mempekerjakan lebih dari 250 ribu orang, telah terpukul sangat keras oleh pembatasan dalam beberapa tahun terakhir. Pemilik pabrik mengatakan mereka telah kehilangan 30 persen bisnis mereka tahun ini karena virus corona.

Karena hal ini otoritas negara bagian di seluruh India sedang mempertimbangkan untuk mengizinkan satu jam pada hari Sabtu untuk menyalakan petasan. 

Seperti diketahui, India memiliki jumlah infeksi virus korona tertinggi kedua di dunia, dengan 8,5 juta kasus, dan para ahli telah menyuarakan kekhawatiran tentang polusi udara yang memperburuk gejala penyakit pernapasan seperti Covid-19. 

Sebelumnya, polusi di New Delhi hampir menghilang awal tahun ini ketika pemerintah memberlakukan lockdown untuk menghentikan virus corona.  Tetapi pembatasan telah dicabut dan polusi, serta virus, kembali meningkat. 

Pemerintah Delhi pada Ahad (8/11) melaporkan 7.750 kasus virus korona dalam sehari, rekor sejak dimulainya pandemi, dengan rumah sakit melaporkan bahwa tempat tidur perawatan intensif hampir habis.  

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA