Senin 09 Nov 2020 18:54 WIB

Cara Virus Nipah Berpindah dari Kelelawar ke Manusia

Memusnahkan kelelawar buah pembawa virus nipah bukanlah solusinya.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda
Kelelawar buah yang terinfeksi menjadi salah satu penyebab penyebaran virus Nipah.
Foto: EPA
Kelelawar buah yang terinfeksi menjadi salah satu penyebab penyebaran virus Nipah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Infeksi virus Nipah (NiV) yang sempat menjadi wabah di Kerala, India, pada Mei 2018 lalu. Infeksi NiV memiliki kemampuan untuk menyebabkan kematian pada 75 persen orang-orang yang terinfeksi. Akan tetapi, belum diketahui bagaimana virus ini bertransmisi ke manusia.

Misteri tersebut akhirnya terungkap melalui studi multidisiplin selama enam tahun. Studi yang dimuat dalam jurnal PNAS ini menunjukkan bahwa NiV dapat beredar di antara kelelawar-kelelawar buah. Peredaran ini tak hanya bisa terjadi di tempat-tempat wabah terjadi, tetapi juga di wilayah di mana kelelawar buah ini berada.

Baca Juga

"Untuk mencegah wabah pada manusia, kita perlu mengetahui kapan kelelawar dapat mentransmisikan virus tersebut dan studi ini memberikan pemahaman mendalam tentang pola infeksi Nipah pada kelelawar," jelas ketua tim peneliti dari EcoHealth Alliance Jonathan Epstein, seperti dilansir Times Now News.

Secara teoretis, Epstein mengatakan, infeksi pada manusia mungkin saja terjadi kapan pun ketika kelelawar-kelelawar pembawa virus dan manusia berkontak. Akan tetapi, memusnahkan kelelawar buah bukan solusi. Epstein mengatakan, keberadaan kelelawar buah penting dalam proses penyerbukan benih di pohon buah-buahan.

"Jadi ini bukan tentang memusnahkan mereka, lebih penting untuk memahami rute transmisi virus dan mengetahui kapan mereka mengontaminasi makanan dan air kita," jelas Epstein.

Selain itu, Epstein mengatakan, ada ratusan hingga ribuan kelelawar buah yang bertengger di pepohonan berkayu keras. Berburu tidak akan menjadi solusi karena hal itu hanya akan meredistribusi kawanan kelelawar tersebut ke pepohonan lain. Kondisi ini akan menciptakan koloni kelelawar yang lebih padat.

"Ukuran dan kepadatan koloni-koloni ini berpengaruh," ungkap Epstein.

Selama 60-70 persen populasi kelelawar memiliki antibodi terhadap NiV, menurut Epstein, wabah kemungkinan tidak akan terjadi. Akan tetapi, studi terbaru menunjukkan bahwa kelelawar di alam liar kehilangan antibodi yang melindungi mereka dari reinfeksi NiV.

Ketika populasi kelelawar yang memiliki antibodi terhadap NiV menurun, dan bahkan mencapai 20 persen, populasi kelelawar tersebut akan menjadi seperti tumpukan korek api. Ketika seseorang "menyulut" korek api tersebut, wabah mungkin terjadi.

Studi-studi juga menunjukkan bahwa virus dapat berpindah ke manusia melalui getah pohon kurma atau buah-buah lain yang terkontaminasi oleh kelelawar yang terinfeksi. Oleh karena itu, tim peneliti menilai upaya yang bisa dilakukan adalah mencegah terjadinya kontaminasi pada pohon kurma atau buah lain.

"Dengan tidak memakan buah dengan tanda gigitan keleawar dan memastikan buah tersebut tidak dijadikan pakan untuk hewan ternak kita bisa mencegah wabah,"  ujar Epstein.

Belajar dari pandemi Covid-19, Epstein menilai tak perlu menunggu terjadinya pandemi baru untuk kemudian melakukan aksi nyata. Dalam hal infeksi NiV, pencegahan bisa dilakukan tanpa harus memusnahkan kelelawar, tetapi memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi oleh manusia dan hewan ternak tidak terkontaminasi virus tersebut.

Terkait wabah NiV, Epstein mengungkapkan, tiap wilayah mungkin memiliki periode yang berbeda. Di Bangladesh, misalnya, wabah NiV di antara kelelawar tampak terjadi setiap dua tahun.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement