Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Raih Gelar Doktor Honoris Causa, Ini Capaian Habib Luthfi

Senin 09 Nov 2020 18:07 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo memberikan ucapan selamat kepada Habib Muhammad Luthfi bin Yahya yang menerima penganugerahan Doktor Honoris Causa (HC) bidang Komunikasi Dakwah dan Sejarah Kebangsaan dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Senin (9/11).

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo memberikan ucapan selamat kepada Habib Muhammad Luthfi bin Yahya yang menerima penganugerahan Doktor Honoris Causa (HC) bidang Komunikasi Dakwah dan Sejarah Kebangsaan dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Senin (9/11).

Foto: dok. Istimewa
Habib Lutfi mendapat gelar doktor honoris causa di bidang dakwah

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG—  Universitas Negeri Semarang (Unnes) menganugerahkan gelar doktor kehormatan (doctorhonoriscausa) kepada anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI Habib Luthfi bin Yahya.

Rektor Unnes, Fathur Rokhman, saat penganugerahan di kompleks kampus Unnes di Semarang, Senin mengatakan gelar tersebut merupakan bentuk memuliakan ilmu, rasa hormat, dan bangga kepada guru, ulama, sekaligus tokoh kharismatik yang telah berkontribusi terhadap bangsa dan negara melalui seni berdakwa yang menyejukkan dan mendamaikan.

Baca Juga

"Habib Luthfi memiliki gaya berdakwah yang natural dan elegan, yang membedakan dengan ulama lainnya," katanya.

Materi dakwah yang disampaikan, lanjut dia, juga mengemas tiga pilar pemberdayaan umat; yakni agama, kebangsaan, dan pertumbuhan ekonomi.

Menurut dia, selama satu semester, Unnes telah melakukan kajian terhadap kiprah dan pemikiran Habib Luthfi di masyarakat.

"Berdasarkan kajian tersebut, Habib Luthfi bin Yahya adalah sosok yang layak untuk menerima gelar tersebut," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Habib Luthfi juga menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul "Strategi Pemberdayaan Umat dan Sejarah Kebangsaan".

Habib Luthfi menjelaskan tentang keterbukaan informasi, maraknya media sosial serta penggunaan bahasa yang mempengaruhi kondisi beragama, berbangsa dan bernegara.

Dia juga mengungkapkan tentang meluasnya berita hoaks dan ujaran kebencian yang menyebabkan situasi kacau. "Oleh karena itu, pendakwah perlu menyampaikan hal-hal yang tidak menyimpang dari khazanah beragama dan bernegara," katanya.     

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA