Senin 09 Nov 2020 10:44 WIB

SoftBank Bangun Reputasi Kembali Lewat Startup China

Reputasi SoftBank mengalami masalah di perusahaan rintisan lain baru-baru ini.

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya
Bank investasi asal Jepang, Softbank.
Bank investasi asal Jepang, Softbank.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO – Perusahaan modal ventura asal Jepang Softbank Group Corp mencoba membangun kembali reputasinya sebagai investor startup dengan berharap pada perusahaan berbasis Beijing, KE Holdings Inc atau dikenal Beike. Perusahaan yang go public pada Agustus ini terus naik hingga mampu mengangkat nilai saham Softbank menjadi 6,4 miliar dolar AS, atau sudah balik 375 persen.

Seperti dilansir di Bloomberg, Ahad (8/11), Beike merupakan startup bidang properti yang berbasis di Beijing, China. Saham KE naik 20 persen  sejak penutupan kuartal terakhir.

Baca Juga

Pendiri SoftBank, Masayoshi Son, diyakini akan menyoroti perkembangan Beike ketika mengumumkan hasil pendapatan kuartalan pada 9 November. Pada bulan lalu, Son berbicara tentang Beike di SoftBank World, acara tahunan yang membicarakan perusahaan dan startupnya.

Ia menyoroti, bagaimana Beike menggunakan kecerdasan buatan untuk mencocokkan pembeli dan penjual di pasar properti China. "Ini adalah perusahaan luar biasa. Ia berkembang pesat dan sudah menghasilkan keuntungan besar," ujar Son, menunjukkan grafik untuk merinci bisnis perusahaan.

Miliarder Jepang tersebut diketahui mencetak prestasi di awal karirnya dengan mendukung Alibaba Group Holding Ltd dan Yahoo! Inc. Tapi, reputasi SoftBank mengalami masalah di perusahaan rintisan lain baru-baru ini. Di antaranya perusahaan berbagi tempat kerja, WeWork, yang menyebabkan rekor kerugian pada tahun fiskal lalu.

Analis di SBI Securities Co Shinji Moriyuki mengatakan, SoftBank sudah mulai pulih setelah menghadapi masa-masa terburuk terutama dengan mengandalkan perusahaan berbasis internet. "Tidak apa-apa bagi SoftBank untuk menemukan satu perusahaan yang akan menjadi penerus Alibaba di masa depan," katanya.

Investasi KE, ditambah dengan kemungkinan keuntungan beberapa raksasa teknologi Amerika, diproyeksikan dapat membantu SoftBank melampaui perkiraan profit di kuartal kedua tahun fiskal ini.

Perusahaan diperkirakan akan melaporkan laba bersih 150,3 miliar yen atau 1,4 miliar dolar AS untuk tiga bulan yang berakhir pada 30 September, menurut rata-rata tiga analis yang dikumpulkan Bloomberg. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kuartal yang sama pada tahun sebelumnya, yakni ketiga SoftBank merugi 700 miliar yen.

Memperkirakan pendapatan perusahaan semakin sulit. Sebab, SoftBank beralih dari industri telekomunikasi ke arah instrumen keuangan yang kompleks. Pada Agustus, perusahaan sempat mengatakan akan berhenti membuka pendapatan operasionalnya karena tidak mencerminkan keuntungan dari investasi sekuritas dan dividen.

SoftBank sedang membuat comeback di tahun ini setelah sempat salah langkah dengan perusahaan rintisan seperti WeWork dan kekhawatiran terkait dampak pandemi. SoftBank mengungkapkan rencana untuk menjual aset 4,5 triliun yen dan membeli kembali sahamnya dengan rekor nilai 2,5 triliun yen. Langkah ini mendorong saham SoftBank ke level tertinggi dua dekade pada bulan lalu.

Pasar IPO juga sudah meningkat, membuka pintu bagi perusahaan portofolio SoftBank untuk go public. ByteDance Ltd, pengembang aplikasi TikTok dan didukung oleh Son, kini sedang mempertimbangkan untuk mendaftar di bursa saham Hong Kong. Bahkan, WeWork berharap dapat melakukan IPO kembali setelah sempat ‘hancur’ pada tahun lalu.

Analis di Daiwa Securities Yoshio Ando menjelaskan, saham unicorn kini menguat setelah investor terbiasa dengan pandemi Covid-19. "Kami memperkirakan, profil SoftBank Group akan berubah dramatis tahun ini. Kami berharap, perusahaan dapat menavigasi jalannya melalui dunia yang tidak diketahui investor," katanya dalam laporan tertanggal 26 Oktober.

SoftBank juga mendapat keuntungan dari kuatnya kuartal ketiga Nasdaq. Apabila ia memegang saham Netflix, Amazon dan 23 perusahaan AS lainnya, keuntungan portofolio SoftBank dapat mencapai 570 juta dolar AS, menurut perhitungan Bloomberg.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement