Senin 09 Nov 2020 08:41 WIB

Polisi Prancis Menggerebek dan Meneror Empat Anak Muslim

Ada sepuluh polisi Perancis bertopeng membawa senjata besar mengeledah rumah mereka.

Rep:  Meiliza Laveda/ Red: Agus Yulianto
Polisi Perancis melakukan patroli keamanan di dekat Menara Eiffel, Paris.
Foto: REUTERS / Yves Herman
Polisi Perancis melakukan patroli keamanan di dekat Menara Eiffel, Paris.

REPUBLIKA.CO.ID, ALBERTVILLE – Empat anak berusia di bawah sepuluh tahun, mendapat teror selama 11 jam oleh polisi Prancis. Mereka terkejut saat bertemu polisi yang bersenjata dan secara agresif mengetuk pintu rumahnya pada Kamis pagi. Demikian dilaporkan kantor berita Anadolu.

“Mereka jelas ingin meneror kami," kata ayah dari salah seorang anak yang berkebangsaan Prancis-Turki, Servet Yildirim, dilansir Al Araby, Ahad (8/11).

Dia menjelaskan, sebelum pukul 07.00 pagi waktu setempat, polisi mengetuk pintu sampai hampir mendobraknya. Yildirim tinggal bersama keluarganya di Albertville. Setelah Yildirim membuka pintu, ada sepuluh polisi bertopeng yang membawa senjata besar.

"Mereka memotret dekorasi dinding, mencoba menemukan petunjuk dengan menggeledah seluruh rumah," ujar dia.

Putrinya yang masih berusia sepuluh tahun, dibangun paksa dan dibawa ke kantor polisi. Di sana para polisi mulai menanyakan sejumlah pertanyaan tentang agama dan bagaimana mereka beribadah. Yildirim dan istrinya diinterogasi selama dua jam.

Polisi menginterogasi keluarga tersebut tentang identitas agama mereka dan pemikiran mereka tentang meningkatnya ketegangan antara Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Penggerebekan yang menakutkan itu tampaknya terjadi setelah bocah sepuluh tahun itu membuat komentar di kelas setelah penerbitan kartun Nabi Muhammad yang ofensif.

Dia menjelaskan, kepada Anadolu apa yang terjadi di sekolah ketika ditanya oleh gurunya tentang apa yang dia pikirkan terkait pembunuhan guru, Samuel Paty bulan lalu.

"Saya mengatakan kepadanya saya menyesal dia meninggal, tetapi tidak akan terjadi apa-apa jika dia tidak menunjukkan kartun itu," kata dia.

Setelah mendengar jawaban anak itu, guru menanggapi dengan mengatakan dia mengerti.

Terlepas dari komentar anaknya, ayahnya mengatakan, anak itu tidak tahu menahu terkait insiden tersebut.

"Ini bukan hal-hal yang kami bicarakan di rumah. Semua orang tahu keluarga kami setelah 20 tahun tinggal di sini. Sekolah sangat mengenal kami. Kami memiliki beberapa anak yang bersekolah di sekolah yang sama. Jika ada rasa khawatir tentang radikalisasi dengan kami, semua orang akan tahu,” jujar dia. 

Selain ditanyai soal agama, anak itu juga ditanyai seberapa sering dia mengunjungi masjid.

Sementara dua dari anak-anak yang dibawa oleh polisi diangkut ke Chambery, sebuah kota Alpen di tenggara Prancis. Pihak berwenang menolak memberikan klarifikasi mengapa mereka menginterogasi keluarga tersebut. Bahkan, sekolah juga enggan memberi komentar.

Ini terjadi pada saat ketegangan memuncak di Prancis terkait pendapat yang mengejek agama adalah bagian dari kebebasan berbicara. Para Muslim di Prancis dan dunia menentang pendapat tersebut, terlebih setelah kartun ofensif Nabi Muhammad diterbitkan ulang di sana.

Protes dan seruan untuk memboikot produk Prancis dengan cepat dipicu di sebagian besar dunia Muslim, terutama setelah Presiden Macron membela penerbitan karikatur tersebut.

Menurut Human Rights Watch, pihak berwenang Prancis secara agresif telah mengejar siapa pun yang tampaknya berbicara positif tentang tindakan atau kelompok teroris bahkan tanpa ancaman atau hasutan. 

 

Sumber:

https://english.alaraby.co.uk/english/news/2020/11/8/four-children-terrorised-by-french-police-during-anti-terror-raid

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement