Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Menlu Prancis Tegaskan Hormati Islam

Senin 09 Nov 2020 07:12 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Penghormatan tertinggi terhadap Islam merupakan prinsip pertama di Prancis. Ilustrasi.

Penghormatan tertinggi terhadap Islam merupakan prinsip pertama di Prancis. Ilustrasi.

Foto: Reuters
Penghormatan tertinggi terhadap Islam merupakan prinsip pertama di Prancis

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO - Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian menegaskan negaranya sangat menghormati Islam selama kunjungan ke Kairo pada Ahad (8/11). Pernyataan ini muncul ketika negara tersebut menghadapi perselisihan dengan dunia Muslim akibat penerbitan karikatur Nabi Muhammad SAW.

Le Drian mengatakan kampanye "anti-Prancis" di dunia Muslim sering kali merupakan hasil dari distorsi komentar Presiden Prancis, Emmanuel Macron, tentang masalah tersebut. Dia menyatakan penghormatan tertinggi terhadap Islam merupakan prinsip pertama di Prancis.

“Saya juga ingin mengatakan bahwa Muslim adalah bagian penuh dari masyarakat di Prancis," kata Le Drian.

“Pesan kedua adalah bahwa kita dihadapkan pada ancaman terorisme, fanatisme, di tanah kita tetapi juga di tempat lain, dan pertempuran ini adalah pertempuran bersama," kata Le Drian.

Le Drian bertemu dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dan Menteri Luar Negeri Sameh Shoukry dalam kunjungan itu. Setelah itu dia melakukan perbincangan terbuka dengan kepala institusi Al-Azhar, Sheikh Ahmed al-Tayeb.

“Saya mencatat banyak poin perbedaan dalam analisis kami. Saya memberi tahu Imam Besar betapa kami membutuhkan suara keseimbangan, toleransi, dan moderasi," kata Le Drian kemudian diralat oleh pejabat Prancis yang menjelaskan kalau Menteri itu bermaksud mengatakan convergence yang artinya persamaan, bukan divergence atau perbedaa.

Le Drian menyatakan satu-satunya pertempuran yang dilakukan Prancis dengan Mesir dan negara-negara lain adalah melawan ekstremisme. Dia pun menyampaikan keinginan Imam Besar yang ingin bekerja sama untuk memperdalam pertemuan bersama itu.

Dalam pernyataan tertulis tentang pertemuan tersebut, Syekh Tayeb mengatakan telah menekankan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW tidak dapat diterima. “Saya orang pertama yang memprotes kebebasan berekspresi jika kebebasan ini melanggar agama apa pun, bukan hanya Islam,” katanya.

Syekh Tayeb menyatakan institusinya akan menolak menggambarkan terorisme sebagai Islam. "Al-Azhar mewakili suara hampir dua miliar Muslim dan saya mengatakan teroris tidak mewakili kami, dan kami tidak bertanggung jawab atas tindakan mereka," ujarnya.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA