Senin 09 Nov 2020 09:55 WIB

Catat, Ini Daftar Fenomena Astronomi Pekan Kedua November

Pekan ini terjadi hujan meteori Taurid Utara hingga Merkurius tampak paling terang.

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Dwi Murdaningsih
hujan meteor
Foto: Dominic Alves/Flickr
hujan meteor

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada bulan November ini terdapat beberapa fenomena astronomi yang sayang untuk dilewatkan. Dilansir di Pusat Sains Antariksa Lapan, berikut beberapa fenomena astronomi yang dapat dijumpai pada pekan kedua November 2020:

9 November - Fase Perbani Akhir

Baca Juga

Puncak fase perbani akhir akan terjadi pada 8 November 2020 pukul 20.46.02 WIB. Bulan berjarak 381.175 km dari Bumi (geosentris) dan terletak pada konstelasi Cancer. Bulan akan terbit setelah tengah malam tanggal 9 November dari arah Timur-Timur Laut, kemudian berkulminasi di arah Utara ketika terbit Matahari dan terbenam dari arah Barat- Barat Laut setelah tengah hari.

11 November - Merkurius paling terang

Puncak elongasi barat maksimum Merkurius terjadi pada 10 November 2020 pukul 23.42 WIB. Akan tetapi, elongasi barat maksimum Merkurius baru dapat disaksikan keesokan paginya sejak Merkurius terbit pukul 04.15 WIB dekat konstelasi Virgo di arah Selatan- Menggara dan akan berada pada ketinggian 15,7 derajat ketika Matahari terbit pada pukul 05.20 WIB.

Sudut elongasi Merkurius- Matahari sebesar 19,1 derajat dengan magnitudo visual -0,6 membuat Merkurius tampak paling terang dibandingkan hari-hari lainnya.

11-12 November - Puncak Hujan Meteor Taurid Utara

Hujan Meteor Taurid Utara adalah hujan meteor yang titik asal muncul meteornya, berada di konstelasi Taurus bagian utara dekat gugus Pleaides. Hujan meteor ini aktif sejak 20 Oktober hingga 10 Desember dan puncaknya pada 12 November sekitar tengah malam ketika berada di titik tertinggi (kulminasi).

Hujan Meteor Taurid Utara berasal dari sisa debu asteroid 2004 TG10 yang mengorbit Matahari dengan periode 3,3 tahun sebagaimana komet Encke yang merupakan objek induk hujan meteor Taurid selatan. Pemisahan hujan meteor Taurid menjadi Taurid Utara dan Selatan disebabkan oleh pertubasi atau perubahan interaksi gravitasi khususnya pada planet Jupiter.

Hujan Meteor Taurid Utara dapat disaksikan sejak pukul 18.30 WIB pada malam sebelumnya (11 November) hingga pukul 04.30 WIB keesokan paginya (12 November). Intensitas berkisar 4 meteor per jam untuk wilayah Indonesia. Ketinggian titik radian ketika kulminasi bervariasi mulai 57 derajat (Pulau Rote) hingga 37 derajat (Pulau Weh).

12-14 November - Kuartet Bulan-Venus-Spica-Merkurius

Setelah venus, Spica dan Merkurius mengalami tripel konjungsi selama enam hari berturut-turut, ketiga benda langit ini akan mengalami kuartet dengan Bulan berfase sabit akhir selama tiga hari sejak tanggal 12 hingga 14 November. Peristiwa ini dapat diamati sejak pukul 04.45 WIB dari arah Timur.

Hari pertama (12 November), Bulan terlihat cukup tinggi dibandingkan Venus, Spica, dan Merkurus. Keesokan harinya (13 November), Bulan berkonjungsi dengan Venus dan keesokan harinya (14 November), Bulan berkonjungsi dengan Merkurius. Pastikan cuaca cerah, bebas dari polusi cahaya dan penghalang yang menghalangi medan pandang.

14 November - Ketampakan Terakhir Bulan Sabit Tua

Bulan sabit tua dapat disaksikan terakhir kali dengan mata telanjang pada 14 November 2020 sejak pukul 05.00 WIB hingga Matahari terbit (5.30 WIB). Jarak toposentris sejauh 356.587 km, iluminasi 2,60 persen dan lebar sudut 0,87 menit busur. Bulan sabit tua kali ini berumur 28 hari 2,85 jam, elongasi 18,9 derajat dan terbit dari arah Timur di konstelasi Virgo.

14 November - Perige Bulan

Bulan akan berada pada titik terdekat Bumi (perige) pada pukul 18.37.03 WIB dengan jarak 357.833 km, iluminasi 0,89 persen (fase sabit akhir) dan lebar sudut 0,30 menit busur. Bulan terletak di konstelasi Libra ketika perige, akan tetapi tidak dapat disakskan karena Bulan sudah terbenam lebih dahulu dibandingkan Matahari dan cahaya Bulan sangat tipis.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement