Ahad 08 Nov 2020 08:05 WIB

Pidato PM Prancis Singgung Soal Radikalisme

Radikalisme disinggung dalam pidato PM Prancis.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Muhammad Hafil
Pidato PM Prancis Singgung Soal Radikalisme. Foto: Perdana Menteri Prancis  Jean Castex berbicara selama konferensi pers untuk mempresentasikan rencana pemulihan krisis Pemerintah untuk ekonomi dari pandemi Covid-19 di Paris, Prancis, 3 September 2020.
Foto: EPA-EFE/LUDOVIC MARIN
Pidato PM Prancis Singgung Soal Radikalisme. Foto: Perdana Menteri Prancis Jean Castex berbicara selama konferensi pers untuk mempresentasikan rencana pemulihan krisis Pemerintah untuk ekonomi dari pandemi Covid-19 di Paris, Prancis, 3 September 2020.

IHRAM.CO.ID, NICE - - Perdana Menteri Prancis, Jean Castex, Sabtu (7/11), mengatakan Prancis akan terus berjuang tanpa henti melawan Islam radikal. Pernyataan itu muncul saat dia memberikan penghormatan kepada tiga korban serangan di kota selatan Nice bulan lalu.

“Kami tahu musuhnya. Tidak hanya diidentifikasi, tapi memiliki nama, Islam radikal, ideologi politik yang menodai agama Muslim,” kata Castex dalam pidatonya di acara tersebut.

Baca Juga

Seorang pria Tunisia meneriakkan memenggal kepala seorang perempuan dan membunuh dua orang lainnya di sebuah gereja di Nice pada 29 Oktober. Dia berhasil ditembak dan diamankan oleh polisi.

"(Ini) adalah musuh yang diperangi pemerintah tanpa henti dengan menyediakan sumber daya yang diperlukan dan memobilisasi semua pasukannya setiap hari," ujar Castex.

Serangan Nice terjadi setelah serangan kepada seorang guru sekolah di pinggiran kota Paris pada 16 Oktober. Serangan itu dilakukan oleh seorang pria kelahiran Chechnya yang tampaknya marah oleh karena guru tersebut menunjukkan karikatur Nabi Muhammad SAW di kelas dalam membahas kebebasan berbicara.

Seorang pria berusia 21 tahun baru-baru ini tiba dari Tunisia, yang diduga sebagai penyerang Nice. Dia saat ini masih dalam kondisi kritis setelah ditembak oleh polisi kota dan dipindahkan ke rumah sakit Paris pada Jumat (6/11). 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement