Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Surat Nasihat Terbuka untuk Saudaraku yang Jalani Hijrah 

Sabtu 07 Nov 2020 05:57 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Pengunjung menghadiri Festival Roadshow Hijrah Fest 2019 di Medan, Sumatera Utara, Jumat (5/4/2019).

Pengunjung menghadiri Festival Roadshow Hijrah Fest 2019 di Medan, Sumatera Utara, Jumat (5/4/2019).

Foto: Antara/Septianda Perdana
Hijrah bukan terminal akhir dari perjalan menuju kebaikan

REPUBLIKA.CO.ID,   *Oleh Ustadz Yendri Lc MA*

Sebelum memasuki sebuah hutan belantara atau daerah yang sama sekali baru dan asing, bukankah seseorang mesti mempersiapkan segala bekal yang dibutuhkan? Baik berupa makanan, minuman, maupun perlengkapan kesehatan dan keselamatan.

Kalau ada orang yang masuk ke sebuah hutan yang lebat atau mendaki gunung yang tinggi, tanpa membawa bekal apa-apa, bukankah wajar kalau ada yang berkata: ‘Nekad!’. Bahkan, tak salah juga jika ada yang komentar, “Cari mati…!”.  

Tak cukup mempersiapkan bekal saja, orang itu juga mesti bertanya dan minta pendapat orang-orang yang pernah memasuki hutan atau daerah terpencil itu untuk mengetahui bagaimana karakteristik daerahnya, apa saja yang mesti disiapkan, apa yang mesti dihindari, apa langkah-langkah yang mesti diambil jika terjadi kondisi yang tak diduga dan sebagainya.   

Kalau untuk memasuki sebuah wilayah saja semua persiapan ini mesti dilakukan, apalagi memasuki dunia keilmuan yang jauh lebih ‘belantara’ dan ‘terjal’ dibandingkan hutan dan gunung? Terlebih lagi kalau ‘wilayah’ yang akan dimasuki itu wilayah ikhtilaf sejak dulu? Tentu bekal yang disiapkan harus lebih ekstra.  

Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Berbicara tentang Islam saat ini telah menjadi sesuatu yang paling mudah dan murah (an). Siapapun yang mau bicara, bisa bicara. Yang diperlukan ‘hanya’ peci putih ala jamaah haji. Lebih baik lagi jika ditambah sorban ala Arab Saudi, sehingga kesan sebagai ustadz semakin diakui. Untuk wanita ‘cukup’ pakai cadar, sehingga hijrah tampak sangat total (tentu tidak semuanya begitu).  

Kalau titel ustadz atau ustadzah sudah disematkan, baik oleh diri sendiri atau fans, maka dunia keilmuan seolah sudah siap membuka diri untuk dimasuki. Bagaimana dengan bekal dan peralatan? Ilmu nahwu, sharaf, balaghah, ma’ani, ushul, mantiq, dan sebagainya? Lupakan saja. Itu kan hanya akal-akalan para ulama agar wilayah itu terlihat angker dan berbahaya. Siapa bilang kalau agama ini hegemoni mereka? Bukankah Islam milik semua? Berarti siapapun berhak berbicara atas namanya.

Apa tidak sebaiknya bertanya dulu kepada mereka yang sudah kembali dari sana? Bukankah mereka jauh lebih mengerti seluk-beluk daerahnya? Ah, tidak perlu. Toh kalau mereka bisa, tentu saya juga bisa. Hum rijal wa nahnu rijal (?)   

Saudaraku, semua senang melihat semangatmu untuk ‘hijrah’. Engkau yang selama ini bergelimang dengan ‘dunia’, kesenangan, dan kelalaian (meski kami pun juga demikian), sekarang memutuskan untuk lebih fokus pada agama dan berusaha secara sungguh-sungguh untuk mengamalkannya.  

Boleh jadi engkau lebih baik dari kami yang tak pernah ‘hijrah’ (dalam makna yang dipahami banyak orang saat ini). Tak ada yang tahu kualitas iman kita, selain Zat yang Mahatahu segalanya. Tapi memang, seteguk air menjadi sangat berarti bagi orang yang sangat kehausan. Sementara orang yang selama ini memiliki air berlimpah, seteguk air kadang tak begitu dihiraukan.  

Tetapi, dunia keilmuan wilayah yang tak semua orang boleh dan bisa ‘menjamahnya’. Jangankan engkau wahai saudaraku yang baru satu-dua hari ‘hijrah’, mereka yang menghabiskan umurnya untuk ilmu pun tidak semua yang layak berbicara tentangnya. Jadi, mengapa mesti buru-buru?  

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA